Pemahaman “Mantan HT” Soal Al Mahdi dan Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah

ORANG YANG MENGAKU MANTAN HT MENGATAKAN:

Ternyata syarat agar kaum muslimin diberi kekuasaan kekhilafahan oleh Allah, berdasarkan ayat janji Allah -subhanahu wa ta’ala- tersebut diatas, adalah yang pertama masalah kualitas keimanan ummat Islam itu sendiri yaitu menjauhkan segala macam kesyirikan dan menutup rapat-rapat pintu yang mengarah kesana.
Kemudian yang kedua adalah kualitas amal shalih ummat Islam yaitu amal yang ikhlas dan ittiba’ kepada Rasul semata tanpa ada tambahan-tambahan baru yang tidak pernah dicontohkan oleh generasi salaful ummah.

 

KOMENTAR:

Benar, kuncinya tauhid dan amal sholih. Tapi Islam itu kadang menuntut umatnya untuk melakukan amal sholih merealisasikan terget-target yang bersifat riil, seperti menaklukkan benteng musuh atau mendirikan sebuah negara islam. Ini juga amal sholeh, dan itu juga dilakukan dengan ittiba’. Untuk merealisasikan target yang bersifat riil itu diperlukan amalan khusus yang bersifat riil dan terarah langsung pada sasaran dan tentu menjadikan langkah2 rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai refrensi, tidak cukup dengan keimanan dan amal sholih dalam bentuk global. Kaum muslimin tidak akan menumbangkan musuh hanya dengan mengaku beriman dan terbebas dari syirik. Musuh yang benar-benar keras memusuhi islam juga tidak bisa ditaklukkan jika umat islam hanya mencukupkan diri dengan keimanan dan tauhid. Begitu pula denganNegara Islam, dia tidak akan otomatis berdiri tanpa perencanaan dan langkah-langkah politis yang diatur dan dijalankan dengan matang. Oleh karena itu, dalam konteks mendirikan khilafah, umat tidak hanya butuh ulama, tapi butuh ulama yang bergerak secara politis untuk merealisasikan target-target yang bersifat politis. Gerakkan politis untuk mendirikan negara islam juga dicontohkan dalam sirah nabawiyah. Lihat bagaimana rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam mengontak berbagai kabilah, bukan hanya untuk mengajak mereka masuk islam, tapi juga meminta agar mereka mau memberikan kekuasaan kepada islam (lihat dialog beliau dengan Bani Amr bin Sho’sho’ah). Ini yang disebut oleh HT dengan Tholabun Nushroh. Bayangkan juga, bagaimana Rasulullah melemahkan posisi politis Abdullah bin Ubai bin Salul dalam mengambil posisi kepemimpinan di Yastrib. Semua itu langkah politis yang harus ditiru dan termasuk amal sholih.

Ingat, jika benar Imam Mahdi adalah kholifah yang akan datang, maka saya yakin, dia adalah orang yang memiliki manuver yang jitu dalam politik. Pasalnya, dia hidup di zaman yang penuh kemunkaran, kesemena-menaan dan kedzoliman. Lantas bagaimana dia bisa menjadi kholifah di tengah situasi seperti itu tanpa langkah-langkah yang disiapkan secara matang? Jika itu karena kekosongan Kerajaan Saudi, lantas apakah Imam Mahdi ini dipilih begitu saja tanpa track record politik sama sekali (seperti orang kampung yang tiba-tiba ditunjuk jadi kholifah)? Atau apakah dia diturunkan dari langit oleh Allah ta’aalaa seperti seorang malaikat sehingga manusia otomatis menunjuknya? Atau dia punya mu’jizat yang membuat kagum semua orang seperti para nabi ‘alaihimus salaam? Atau apakah dia sudah punya catatan gerak politik yang baik sehingga dia dipandang layak oleh umat/ahlul halli wa ‘aqdi untuk menduduki jabatan kholifah? (Ingat, menurut Ahlus Sunnah, pengangkatan Kholifah ini perkara duniawi-manusiawi, bukan seperti keyakinan rafidhah yang meyakini bahwa Imam diangkat oleh Allah).

 

 

ORANG YANG MENGAKU MANTAN HT MENGATAKAN:

Diriwayatkan oleh Hudzaifah -radliallahuanhu- secara marfu’ kepada Nabi -shallallahu alaihi wa alihi wa salam- beliau bersabda :
“Masa ke Nabi an akan terjadi dalam masa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian Allah akan mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kekhalifahan sesuai dengan sunnah Nabi dalam masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kerajaan yang sangat berkuasa dalam masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kekuasaan diktator dalam waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu berdirilah kekhalifahan sesuai dengan sunnah Nabi, kemudian beliau -shallallahu alaihi wa alihi wa salam- diam”. (HR Ahmad dalam Musnad nya, dishahihkan oleh al hafizh Al Iraqi dan al albani)

Keterangan : Dzahir hadits diatas menjelaskan pada kita bahwa saat ini kita berada di kurun pasca dan pra khilafah ala manhaj nubuwwah (ditengah-tengah masa) entah di zaman kerajaan besar atau zaman penguasa yang diktator. Khilafah ala manhaj nubuwwah akan hadir setelah dua zaman tersebut.

 

KOMENTAR:

Jika hadits itu dipakai untuk menolak propaganda yang masif soal khilafah, maka ini sangat menggelikan. Hadits ini menggambarkan empat fase, di mana khilafah ‘alaa minhajin Nubuwwah hanya akan tegak kembali pada fase terakhir setelah fase raja-raja besar dan penguasa diktator. Kemudian, dengan pemahamannya yang aneh, penulis seolah-olah mengatakan bahwa “Kita tidak perlu susah-susah mendirikan khilafah, karena khilafah tidak akan tegak pada zaman kita, sebab mungkin kita sekarang ada pada di zaman raja-raja besar atau diktator, makanya khilafah itu baru akan tegak jauh setelah zaman kita sekarang. Karena itu, setiap usaha mendirikan khilafah pd hari ini pasti sia-sia dan tidak perlu”.

Tidak ada orang cerdas yang bisa berkata seperti itu. Hadits itu menyatakan bahwa khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah akan tegak setelah masa kerajaan dan diktator. Tapi, ini hanya diskripsi realitas, tidak mengandung tuntutan yang bersifat syar’i. Memang benar bahwa khilafah telah runtuh dan digantikan raja kemudian penguasa diktator. Tapi itu tidak berarti bahwa pada fase kerajaan itu umat islam tidak diwajibkan mendirikan khilafah. Keberadaan kerajaan itu keputusan Allah, tapi itu bukan keputasan yang bersifat syar’i. Secara syar’i, Allah tetap mewajibkan umat islam untuk bernaung di bawah khilafah, dan haram bagi mereka untuk ridho kepada penguasa lain selain kholifah. Maka dari itu, siapa yang ridho terhadap raja-raja itu maka meraka berdosa (karena berdiam terhadap kemunkaran), sebaliknya, siapa yang tidak ridho dengan mereka dan terus berusaha untuk mengembalikan khilafah maka mereka terlepas dari dosa raja-raja itu.

Oleh karena itu, kewajiban untuk mendirikan khilafah ini sudah mulai ditanggung oleh umat sejak detik pertama khilafah runtuh. Ibnu Hazm mengatakan, “tidak halal bagi muslim bermalam selama dua hari sementara di pundaknya tidak ada baiat kepada seorang Imam” (lihat Al Muhalla pada “kitaabul Imaamah”. Oleh karena itu, siapa saja yang mengabaikan kewajiban ini, maka dia dianggap mengabaikan kewajiban kifayah yang sangat besar.

Kesimpulannya, meski khilafah akan berdiri setelah dua zaman tersebut, tapi usaha untuk mendirikan khilafah tetap wajib sejak detik pertama khilafah tumbang. Dan kapan khilafah berdiri? itu urusan Allah, Tapi manusia wajib berusaha untuk memenuhi kewajibannya.

 

 

ORANG YANG MENGAKU MANTAN HT MENGATAKAN:

Keterangan : Disini dijelaskan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wa salam- bahwa sebelum turunnya al Mahdi -alaihis salam- bumi sedang penuh dengan kezhaliman dan kesemena-menaan , oleh karena itu tidak mungkin al Mahdi di turunkan setelah adanya khilafah rasyidah akan tetapi dapat dipastikan bahwa al Mahdi lah khalifah yang pertama kali setelah zaman kedzaliman ini. Zaman kedzaliman dan kesemena menaan adalah zaman kita ini, sehingga setelah ini khilafah hanya akan berdiri oleh al mahdi yang bernama Muhammad bin Abdillah, bukan oleh organisasi/ harokah manapun.

 

KOMENTAR:

Pertama. Penulis memiliki masalah pemahaman yang kacau tentang kewajiban pendirian khilafah. Dia fikir, mendirikan khilafah ini hanya kewajiban Imam Mahdi, kemudian orang lain cukup menunggunya tanpa harus bersusah payah untuk menyusun langkah politis-praktis guna mendirikan khilafah. Ini terjadi karena dia tidak bisa membedakan antara dalil yang sekedar berisi pemberitaan dengan dalil yang menuntut amal. Dalil yang mengisahkan perihal imam Mahdi itu berupa khobar, tanpa ada tuntutan apa pun yang bersifat syar’i. Di sisi lain, ada banyak dalil syara’ yang menuntut umat islam agar selalu memiliki Imam/Kholifah. Ibnu Hazm di dalam Al Muhalla mengatakan, “tidak halal bagi seorang muslim untuk hidup selama dua malam tanpa ada baiat di pundaknya kepada seorang imam”. Kemudian beliau memaparkan dalil-dalilnya. Para ulama memahami bahwa mengangkat Imam adalah kewajiban umat islam, dan umat islam akan berdosa jika tidak mau berusaha memenuhi kewajiban itu. Tapi penulis justru menyandarkan sepenuhnya urusan ini kepada Imam Mahdi, seakan-akan kewajiban mendirikan khilafah ini hanya berlaku bagi Imam Mahdi dan pada zaman Imam Mahdi saja. Saya ulangi, dalil perihal imam Mahdi itu sepenuhnya berisi berita, dan sama sekali tidak mengandung larangan kepada umat islam untuk mendirikan gerakan yang berusaha mendirikan khilafah dan mengangkat seorang kholifah. Artinya, kewajiban untuk mendirikan khilafah tetap ditanggung oleh ummat sehingga mereka harus selalu berusaha merealisasikannya.

Kesalahpahaman penulis mengenai Imam Mahdi ini benar-benar parah dan menggelikan. Dia menggembosi signifikansi gerakan pendirian khilafah hanya dengan mengatakan bahwa kholifah itu adalah Al Mahdi, bukan salah seorang dari organisasi mereka. Padahal, nash-nash tentang Imam Mahdi tidak melarang umat islam untuk berusaha mendirikan khilafah dan membaiat kholifah sesegera mungkin. Justru sebaliknya, ada banyak dalil yang mewajibkan umat untuk membaiat Imam dan mengharamkan sikap berdiam diri atas ketiadaan imam yang dibaiat.

Kedua. Masalah siapa yang akan diangkat menjadi kholifah, ini bukan perkara aqidah, tapi perkara syariat. Penulis sengaja mengacaukan masalah ini, seakan-akan masalah kholifah ini menjadi masalah aqidah. Sehingga, seolah-olah, orang-orang yang ingin mendirikan khilafah dianggap menyalahi hadits-hadits Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, dan orang yang ingin membaiat seorang muslim (yang tidak bergelar Al Mahdi) dianggap menyalahi nash-nash yang mengisahkan tentang Imam Mahdi. Ini benar-benar lucu, aneh, konyol sekaligus memperihatinkan. Para ulama telah mendiskusikan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa diangkat menjadi kholifah secara sah, seperti: Islam, laki-laki, adil, baligh, berakal, merdeka, mampu, dan sebagian ulama menambahkan syarat “Quraisy”. Siapa saja yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syara’, maka dia sah untuk diangkat menjadi kholifah, siapa pun namanya. Tidak ada syarat bahwa yang diangkat itu harus bergelar Al Mahdi putra Abdullah yang telah dijanjikan, sehingga kholifah yang tidak bernama Al Mahdi tidak dianggap sah.

Adapun masalah bahwa yang akan pertama kali di baiat nanti adalah Imam Mahdi, itu sepenuhnya menjadi urusan Allah, bukan urusan manusia. Kaum muslim hanya diberi kewajiban untuk membaiat seorang kholifah dengan kriteria yang telah dijelaskan oleh para ulama, dan diharamkan bagi mereka untuk hidup tanpa kholifah.

Ketiga. Apakah khilafah yang tidak dipimpin oleh Al Mahdi itu tidak sah? Dan apakah tidak boleh mengangkat kholifah yang tidak bernama Al Mahdi-bnu Abdillah? Lagi pula, siapakah Al Mahdi itu? Apakah beliau seorang hamba khusus dan istimewa dengan ciri-ciri khusus? Ataukah beliau seorang Nabi? Atau kah beliau itu manusia biasa seperti kita yang memiliki hak dan kewajiban seperti kita juga? Jika beliau manusia biasa, bukankah itu berarti beliau cuma melakukan kewajiban berdasarkan syariah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang juga kita tanggung? Jika beliau sekedar menjalankan syariah Muhammad, berarti khilafah itu bukan kewajiban khusus untuk beliau saja. Sebab, syariah Muhammad itu berlaku umum ditanggung oleh seluruh umat Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

ORANG YANG MENGAKU MANTAN HT MENGATAKAN:

Tidak disebutkan oleh hadits ini (Hadits wafatnya seorang khalifah sebelum munculnya al mahdi) seperti apakah kondisi khalifah yang meninggal sebelum munculnya al mahdi ini, namun mengingat banyak hadits menyebutkan bahwa sebelum al mahdi muncul di dunia ini penuh dengan kedzaliman, maka khalifah yang meninggal ini pastilah bukan khalifah ber manhaj nubuwwah, dan faktanya memang saat ini telah banyak pihak yang mengklaim sebagai khalifah, misalnya khalifah NII, Khalifah Jama’ah Islamiyah, bahkan manhaj wahhabi di saudi juga mengklaim raja mereka sebagai khalifah dan banyak diantara mereka yang menulis tentang Daulah Su’udiyah. Dan yang terakhir inilah yang paling berkemungkinan yang dimaksudkan hadits tersebut mengingat al mahdi muncul di haramain.

Disini dijelaskan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa alihi wa salam- bahwa al Mahdi -alaihis salam- adalah salah seorang dari penduduk Haramain, bukan penduduk Indonesia, bukan penduduk Iran, dan faktanya di haramain hingga kini tidak tampak eksistensi harokah-harokah Islam melainkan hanya sedikit sekali dan itupun secara diam diam. Sehingga al mahdi dari dzahir hadits tersebut sepertinya bukan dari kalangan harokah harokah yang gencar berda’wah di Indonesia.

Pembaitan al mahdi terjadi di Makkah oleh ulama penduduk haramain karena waktu itu di Haramain (sekarang masuk wilayah saudi arabia) sedang terjadi kekosongan kekuasaan pemerintahan akibat meninggalnya penguasanya sehingga terjadilah pertikaian perebutan kekuasaan. Al mahdi dibaiat sebagai solusi atas adanya konflik pemerintahan di haramain dan sekitarnya.

Setelah resmi dibaiat sebagai amir haramain dan sekitarnya (amir negeri saudi saat ini – wallahua’lam), al mahdi masih menghadapi tantangan dari penguasa penguasa lainnya di Semenanjung arabia (Timur Tengah).

 

KOMENTAR:

            Pikiran penulis di sini juga tak kalah menggelikan. Dengan uraian itu seolah-olah dia menyatakan bahwa kholifah itu hanya akan lahir di Saudi, sehingga tidak ada kewajiban untuk mendirikan negara islam bagi kaum muslim yang hidup di negeri yang lain sehingga setiap usaha untuk mendirikan khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah di luar Saudi adalah tidak benar. Sekali lagi masalahnya adalah tidak bisa menempatkan nash yang berbentuk khobar pada tempat yang benar.

Untuk menunjukkan kenylenehannya, saya tunjukkan sebuah nash dalam bentuk khobar yang lain.

Dari Abu Qobil berkata, “kami bersama Abdullah bin Amr Bin Ash radlyallaahu ‘anhuma dan bertanya kepada beliau kota manakah yang akan ditaklukkan lebih dahulu, apakah Konstantinopel atau Roma? Maka Abdullah bin Amr ra menunjukkan sebuah kotak yang berhias kemudian beliau mengeluarkan sebuah kitab dari kotak tersebut, dan berkata, “kami berada disekitar rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, aku mencatat ketika ditanyakan kepada beliau mana di antara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel ataukah Roma? Maka rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kotanya Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yaitu Konstantinopel” (diriwayatkan oleh Ahmad).

            Hadits ini berbentuk khobar, bahwa konstantinopel akan ditaklukkan lebih dahulu dari Roma. Tapi, apakah hadits ini melarang umat islam untuk menyerang Roma sebelum menaklukkan konstantinopel? Sama sekali tidak. Hadits ini hanya memberitakan bahwa konstaninopel ditaklukan lebih dulu, itu saja. Serangan ke Roma sebelum konstantinopel ditaklukkan tidaklah haram.

            Ada juga hadits tentang adanya fase raja-raja dan diktator pasca keruntuhan khilafah rasyidah. Tapi apakah hadits itu berarti melarang usaha pendirian khilafah sebelum berakhirnya dua fase yang kelam itu (Raja-raja dan diktator) ? Dan apakah usaha mendirikan khilafah di dalam fase raja-raja dan diktator dianggap salah dan sia-sia? Tentu saja hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu. Sebab, berusaha mendirikan khilafah adalah wajib bagi umat Muhammad, kapan pun dan di mana pun, selama khilafah itu tidak ada.

            Sama seperti kasus dalam hadits tentang baiat penduduk Makkah ini. Hadits ini hanya berbentuk pemberitaan, bahwa besok di Makkah akan ada kejadian begini. Tapi, itu bukan berarti bahwa umat islam tidak boleh berusaha membaiat kholifah di negeri yang lain, asal syarat-syaratnya terpenuhi. Justru sebaliknya, di mana pun mereka berada, mereka harus berusaha merealisasikan kewajiban baiat kepada seorang kholifah yang memenuhi kriteria secara fiqh. Ini bukan kewajiban khusus warga Al Haramain maupun keturunan Ibnu Su’ud.

            Terlebih lagi, orang-orang yang memaksa laki-laki dari Madinah untuk keluar dan dibaiat itu siapa? saya yakin, mereka adalah orang-orang yang melek politik, dan peduli terhadap permasalahan politik umat. Orang-orang yang membaiat itu pastilah orang-orang yang jeli melihat kesempatan dan peluang-peluang politik. Makanya, orang-orang yang dikatakan oleh penulis memaksa seorang lelaki Madinah untuk keluar di tengah situasi politik yang kacau itu pastilah orang-orang yang punya visi dan misi politis yang baik, dan merencanakan langkah-langakh politisnya dengan baik. Dan saya yakin, mereka juga merupakan ulama yang baik. Mereka pastilah para praktisi politik yang terjun langsung dalam masalah politik yang terjadi pada waktu itu, bukan hanya orang yang duduk-duduk terus sambil membaca kitab Saya tidak mengatakan membaca kitab itu sepele, tapi khilafah tidak akan berdiri jika kerjaan kita sekedar membaca kitab saja seperti yang dikerjakan oleh kebanyakan “ulama” pada zaman ini.

 

ORANG YANG MENGAKU MANTAN HT MENGATAKAN:

Secara ringkas kita bisa menarik kesimpulan bahwa khilafah ala manhaj nubuwwah akan berdiri tidak oleh harokah harokah da’wah manapun yang saat ini ada, melainkan didirikan secara spontan oleh ulama penduduk haramain yang membaiat seorang yang sholih dari penduduk haramain bernama Muhammad bin Abdillah karena saat itu negerinya sedang kosong kekuasaannya dan terjadi perebutan kekuasaan yang tidak sehat.

Jika sebelum peristiwa itu ada yang mengklaim telah mendirikan khilafah maka hal itu pasti bukan khilafah ala manhaj nubuwwah namun bisa jadi hanyalah khilafah ala manhaj Fulan yang mengatasnamakan khilafah islam, yang menyebut diri sebagai khilafah namun prakteknya penuh dengan penyimpangan dan kesewenang-wenangan. Sebagaimana dzahir hadits Nabi yang mengatakan bahwa sebelum berkuasanya al mahdi maka dunia ini akan dipenuhi kesewenang-wenangan.

 

KOMENTAR

Penulis boleh saja berkeyakinan kuat bahwa Khilafah akan didirikan oleh penduduk Hijaz sebagai kelanjutan dari “dinasti” Su’udiyyah. Tapi, dia tidak boleh melarang kaum muslim yang lain untuk berusaha merealisasikan kewajiban dan berusaha menjelaskan kepada umat tentang kewajiban itu. Jika penguasa Indonesia, seperti SBY, mau insyaf, mau dibaiat menjadi kholifah, dan mau menerapkan islam dan mau menjadi duta penyebaran islam, kenapa tidak? Kenapa harus Saudi? Padahal hadits itu tidak menunjukkan larangan untuk berusaha mengubah NKRI menjadi negara Khilafah. Lagi pula, tidak ada satu pun kitab fiqh yang mensyaratkan bahwa khilafah harus didirikan di Hijaz, wabil Khusus dua tanah haram.

terlebih lagi, kenapa harus menunggu kekosongan dan kekacauan kerajaan Su’uddiyyah? Kenapa tidak ada ulama yang menasehati penguasa Saudi agar beliau mau dibaiat untuk menjadi pemimpin ummat? Bukankan kewajiban mengangkat kholifah ini masih berada dalam pundak kita bersama? Bukankah banyak ulama faqih di sana? Bukankah mereka menduduki jabatan yang strategis di sana? Bukankah mereka mengeluarkan banyak buku dan fatwa? Kenapa tidak memberi fatwa kepada penguasa Su’udiyyah untuk mau dibaiat atas nama seluruh umat? Jika itu mereka lakukan, saya sepenuhnya akan mendukung! Apakah mereka menunggu Al Mahdi? Padahal, Al Mahdi sekali pun tidak akan pernah dibaiat jika tidak ada orang-orang di belakangnya yang berusaha memperjuangkan terealisasinya pembaiatan kepadanya. Apakah mereka mengira khilafah belum wajib karena belum datang masa Al Mahdi? Padahal kewajiban mengangkat kholifah itu sudah kita tanggung sejak khilafah runtuh.

Saya pesimis, jika yang dikatakan ulama-ulama itu masih terus bersikap seperti itu, sekali pun terjadi perebutan dan kekosongan kekuasaan di Saudi, mereka akan tetap menjadi “ulama yang a politis”, yang tidak akan mampu memanfaatkan situasi politik seperti itu untuk membaiat siapa pun. Sebab, mereka tidak punya program dan agenda politik sama-sekali (kecuali sekedar menambah ilmu dari kitab-kitab yang ada di perpustakaan mereka). Meski pun pekerjaan mereka mulia, tapi jika hanya itu, mereka tidak akan mampu mendirikan khilafah.

 

Tunggu komen lain trhdpnya di blog ini, insyaallaahu Ta’aalaa

Ditulis dalam Obrolan. Tag: . 79 Komentar »

79 Tanggapan ke “Pemahaman “Mantan HT” Soal Al Mahdi dan Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah”

  1. pengelolakomaht Says:

    Jika anda mengimani hadits hadits Nabi diatas maka jelas anda akan yakin bahwa al mahdi lah khilafah ala manhaj nubuwwah yang ditunggu, kecuali jika anda tidak mengimani kalam Nabi dalam hadits hadits tersebut.

    Apakah saya berpangku tangan ???

    Tentu tidak saudaraku, saya hingga saat ini meskipun dalam keadaan sakit, tetap terus menyampaikan Islam, membantu para ahlul ilm melakukan tashfiyah dan tarbiyah pada ummat Islam tercinta, dan tanpa usaha-usaha seperti itu khilafah tak mungkin tegak dengan sempurna, dan tauhid akan sirna dari muka dunia, al mahdi pun tak kan bersua, oleh karenanya usaha seperti inilah yang lebih tepat untuk tegakknya kalimat Allah dimuka bumi dan usaha seperti inilah yang lebih sesuai dengan arah khabar Nabi akan kehalifahan akhir zaman.

    Lihatlah jika pemahaman yang saya sampaikan diimani maka masyarakat akan membaik dan ketika al mahdi muncul mereka sudah siap dan membaiatnya, berbeda jika proses da’wah HT yang diamini maka akan banyak terjadi gejolak dan kalaupun berdiri khilafah oleh HT lantas al mahdi muncul maka justru perang yang akan terjadi antara khalifah HT dan al mahdi.

    Tapi berdasar kabar Nabi hal seperti tidak akan terjadi dan saya mengimani perkataan Nabi saudaraku. Bagaimana dengan kalian ???

  2. pengelolakomaht Says:

    Supaya adil saya informasikan ya akhil karim juga untuk seluruh kaum muslimin yang saya kasihi, bahwa seluruh hadits shohih tentang al mahdi adalah ahad.
    Namun aqidah adanya al mahdi adalah mutawatir ma’nawy meskipun haditsnya semuanya ahad.

    Semoga Allah memudahkan kita semua.

  3. titok Says:

    Mmm.., Jadi bener, menurut anda sekarang tidak boleh mendirikan khilafah, tapi wajib menunggu Al Mahdi, dan jika sekarang ada sebagian umat islam yang berhasil mendirikan khilafah, maka khilafah itu besok justru akan diperangi oleh Al Mahdi.

    Jadi bener, menurut anda, sejak khilafah diruntuhkan, umat islam tidak boleh membangun khilafah kembali, menurut anda, membangun khilafah adalah hak khusus bagi Al Mahdi, bukan kewajiban bagi manusia biasa seperti kita.

    Jadi bener, menurut anda umat islam harus pasrah dengan keberadaan raja-raja dan penguasa diktator, tidak boleh ada yang berusaha mengganti rezim-rezim itu dengan khilafah, kecuali Al Mahdi.

    Jadi benar, menurut anda, kita tidak punya kewajiban mendirikan khilafah, kecuali menunggu kedatangan Al Mahdi yang akan mendirikannya sendiri dengan skenario yang sepenuhnya di “tangan” Allah, dan kita tidak perlu campur tangan.

    Pemahaman anda kacau sekali. Anda mengaku bermadzhab dzahiri, lantas bagaimana anda mengomentari pendapat Ibnu Hazm dalam Al Muhalla yang mengatakan bahwa umat islam tidak boleh tidak memiliki baiat kepada seorang Imam selama lebih dari dua malam? Anda punya Al Muhalla toh? Bacalah kitab Imamah. Jangan ngaku dzohiriyyah kalo tidak baca Al Muhallaa. Baca juga fashl fil milal wal ahwaa wan nihal, di sana Ibnu Hazm menjelaskan kewajiban Imamah sebagai ijma’, dan beliau tidak mengatakan bahwa Imamah itu kewajiban khusus bagi Al Mahdi, tapi kewajiban bagi umat. Bukankah jika sesuatu itu wajib bagi umat, maka mereka wajib mengusahakan? Jadi kenapa berusaha mendirikan khilafah menjadi salah..???

    Jika kita hanya boleh nunggu selama dua fase itu dan tidak boleh berusaha merealisasikan baiat kepada seorang pun, lantas dalil-dalil yang mengharamkan ketiadaan baiat itu anda taruh di mana? Saya yakin, Dawud bin ‘Ali Al Asfahani pun akan heran dengan pemahaman anda yang aneh ini.

    Sekali lagi, kesalahan anda adalah tidak memahami bahwa kewajiban mendirikan khilafah itu adalah kewajiban semua muslim, jadi, semua orang wajib melakukan langkah. Kalo semua orang menunggu, maka bagaimana mungkin khilafah akan muncul? Siapa yang akan menjadi Al Mahdi kalo semuanya hanya siap untuk menunggu Al Mahdi? Memangnya Al Mahdi itu sudah terlahir sebagai kholifah? Atau dia turun dari langit langsung jadi kholifah?

    Saya tanya, Siapa yang akan merasa menjadi Al Mahdi? Al Mahdi ini sebenarnya apa? Orang yang diangkat langsung oleh Allah, seperti para Nabi, sehingga tidak perlu susah payah untuk menjadi kholifah? ataukah manusia biasa yang diangkat oleh kaum muslim untuk menjadi kholifah?

    Jika Al Mahdi adalah manusia biasa, dan kekholifahannya adalah kepemimpinan yang manusiawi, maka dia tidak akan menjadi kholifah kecuali dengan proses-proses politik yang alami untuk menuju kursi kekholifahan. Ini perkara politik bung! Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam saja melakukan langkah-langkah politik untuk bisa menjadi penguasa, lho! Bukan hanya nunggu. Jadi, Al Mahdi itu pasti berasal dari kalangan yang siap secara fikrah dan thoriqoh untuk merealisasikan khilafah, dan dari kalangan yang bekerja keras agar kekhilafahan kembali tegak, bukan dari mereka yang hanya menunggu.

    Oya, benar, anda memang tidak berpangku tangan dalam konteks menyebarkan paham anda. Tapi, setiap target itu membutuhkan amal yang nyambung atau relevan dengan targetnya. Jika kita menghadapi musuh yang nyata tapi justru sibuk menulis, itu namanya berpangku tangan. Jika khilafah runtuh tapi tidak melakukan langkah-langkah politis untuk mendirikan khilafah, itu namanya berpangku tangan dalam konteks pendirian khilafah. Jika khilafah runtuh tapi kita hanya membicarakan hadits-hadts tentang Imam Mahdi, maka itu bukan langkah yang riil untuk mendirikan khilafah. Yang jelas, jika benar Al Mahdi adalah kholifah yang akan mengentaskan kita dari zaman kelam, maka Al Mahdi bukan dari kalangan orang yang kerjaannya sekedar menunggu, dia pastilah dari kalangan yang kreatif untuk menciptakan peluang-peluang agar khilafah tegak.

    Terlebih lagi, jika anda hanya menyiapkan umat untuk menerima Al Mahdi, lantas siapa yang menyiapkan manuver-manuver politik agar Al Mahdi naik menjadi kholifah? Apakah dia tiba-tiba naik sendiri tanpa manuver politik yang didukung kekuatan politik yang kuat? Ataukah dia tidak punya musuh-musuh politik (seperti saingan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Ubay) yang harus diatasi dengan langkah politik yang matang? Ataukah semua umat manusia tidak ada yang memusuhi islam dan sudah menjadi muslim yang baik semua sehingga Al Mahdi bisa menjadi kholifah dengan mulus tanpa hambatan politik yang harus diatasi?

    Jelas, bagi orang yang tahu dunia politik, dan tahu bahwa akan selalu ada musuh yang akan menghalang-halangi islam, maka dia juga akan tahu bahwa gerakan politik yang matang itu sangat diperlukan agar khilafah tegak, bahkan Al Mahdi pun akan sangat memerlukannya. Dan itu semua tidak akan teratasi hanya dengan ngaji saja.

    Pemahaman anda aneh sekali soal Al Mahdi yang akan memerangi kholifah yang telah dahulu dibaiat. Jika Al Mahdi akan memerangi kholifah yang bukan Al Mahdi, lantas dalil-dalil yang mewajibkan taat kepada Imam yang dibaiat itu anda buang kemana? juga dalil yang mewajibkan berpegang pada baiat yang pertama itu anda ke manakan? Juga dalil yang memerintahkan untuk membunuh kholifah yang dibaiat terakhir itu mau diapakan? Kacau sekali pemahaman anda.

    Sekali lagi, masalahnya adalah anda tidak bisa menaruh khobar-khobar itu dengan benar. Khobar-khobar itu bagi saya sama sekali tidak melarang umat islam untuk secara ikhlash berusaha mendirikan khilafah. Sama seperti dalil tentang Isa ‘alahis salam yang dikabarkan akan memerangi Dajjal, itu bukan berarti umat islam diharamkan untuk berusaha melenyapkan Dajjal tanpa Isa ‘alaihis salam. Justru sebaliknya, umat islam diwajibkan untuk melenyapkan kemungkaran dalam kondisi apa pun, sedangkan turunnya Isa, itu urusan Allah. Sama dalam kasus Khilafah. Kapan dan dimana pun, umat islam wajib berusaha mendirikan khilafah, itu urusan manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban. Sedangkan kedatangan Al Mahdi, kapan dia datang, dan dimana, itu urusan Allah, bukan urusan kita.

    Masalahnya bukan mempercayai soal Imam Mahdi, itu tidak masalah. Masalahnya adalah, apa benar kalo percaya kepada Imam mahdi berarti tidak boleh memperjuangkan khilafah?

    Lantas bagaimana anda mengimani dalil-dalil yang mewajibkan baiat, dan mengharamkan ketiadaan baiat?

  4. pengelolakomaht Says:

    wah tidak benar itu ya akhil karim.

    Saya justru sangat setuju jika detik ini juga berdiri khilafah ala manhaj nubuwwah.

    Tidak ada satupun pernyataan saya yang mengharamkan mendirikan khilafah ala manhaj nubuwwah saat ini, itu kan kesimpulan subyektif anda pribadi dengan berbagai tendensi kelompok.

    Yang saya haramkan adalah mendirikan khilafah yang menyelisihi manhaj nubuwwah, apalagi dengan resiko pertumpahan darah sesama muslim, berantem dengan kelompok muslimin lainnya, serta dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan sunnah, semisal mengumbar aib penguasa di depan umum melalui demonstrasi baik ikhwan maupun akhwat turun ke jalan dan berteriak bahwa penguasa telah kufur padahal sang penguasa seorang muslim juga.

    Khilafah ala manhaj nubuwwah tidak mungkin berdiri di Indonesia ini oleh Hizbut Tahrir.

    Alasannya ?

    Ya karena sistem khilafah HT tidak ala manhaj nubuwwah, itu menurut saya lho…

    Tapi tentunya dengan berdasar dalil-dalil yang selengkapnya bisa disimak sendiri di http://mantanht.wordpress.com

    Begitu ya akhil karim, afwan jika ada yang salah sebab terus terang saya bukan seorang ustadz, saya hanya seorang muslim yang masih terus belajar ilmu agama, semoga kita semua dimudahkan Allah dan keberkahan untuk kaum muslimin yang tercinta

  5. co.cc Says:

    To pengelolakomaht;

    Kalau hadis ahad tersebut sudah mencapai taraf mutawatir ma’nawy,maka hadis itu tidak dikategorikan lagi sebagai hadis ahad,sebaliknya ia dah menjadi hadis mutawatir dari aspek makna,maka ia adalah hadis mutawatir ma’nawy,bukan hadis ahad lagi,kerana ia dah mencapai taraf mutawatir.

    Kalau ia belum lagi mencapai taraf mutawatir,baik lafhzi maupun ma’nawy,maka ia tetap hadis ahad,walaupun sohih.

    Kerana bukan semua hadis sohih itu mutawatir.Ada hadis sohih yang mutawatir,baik lafaz maupun makna & ada juga hadis sohih yang tidak mutawatir,baik lafaz maupun makna.

  6. Akhwat PKS Says:

    Menurut keterangan beberapa hadits shahih, Imam Mahdi itu adalah seorang laki-laki keturunan Nabi Muhammad. Dia akan dibaiat oleh 313 orang pemuda di depan Ka’bah, awalnya dia menolak dibaiat, namun ALLAH SWT meng-ishlahnya dalam waktu semalam.

    Jadi, bisa saja Al-Mahdi itu memang awalnya bukan orang yang ’sadar’ tentang Khilafah. Tapi dengan takdir ALLAH ia kemudian dipertemukan dengan 313 pemuda yang kemudian membaiatnya jadi pemimpin.

    Siapakah 313 orang pemuda itu? Wallahu a’lam…bisa syabab HT, syabab Ikhwan, atau syabab salafiyyun, atau jangan-jangan syabab jama’ah tabligh, atau…bisa juga yang lainnya…yang tidak kita sangka-sangka.

    Tugas kita sekarang adalah bekerja dan beramal melakukan penyadaran ummat akan aqidah, syariat, dan akhlak Islam. Bekerja dan beramal serta berikhtiar agar negeri-negeri Islam dapat diishlah, pada akhirnya takdir ALLAH yang akan menentukan dimana Khilafah akan tegak; dengan cara bagaimana dan oleh siapa dia akan tegak.

    Mudah-mudahan kita dimasukkan oleh ALLAH SWT ke dalam golongan orang-orang yang sedang menegakkan din ini.

    Dakwah tiada henti! Allahu Akbar walillahil hamd!

  7. titok Says:

    Yah, saya setuju dengan pernyataan ukhtiy di atas.

    Masalah Al Mahdi itu urusan Allah. Manusia punya urusan sendiri, yakni berusaha untuk menerapkan kembali hukum-hukum islam dan dakwah lewat hujjah dan jihad melalui tegakknya khilafah.

    Ada pun orang yang punya inisiatif untuk membaiat kholifah nanti, siapa mereka? kita memang tidak tahu. Yang jelas, seperti yang telah saya tegaskan, para pembaiat itu pastilah bukan dari kalangan yang kerjaannya hanya “menunggu”. Mereka pasti jeli melihat peluang, dan bergerak secara kreatif untuk menciptakan situasi politik yang kondusif untuk tegaknya khilafah. Dan yang pasti, mereka tentunya juga siap akan konsepsi khilafah itu sendiri, mereka tentu telah mempelajarinya dengan baik sehingga siap untuk mengatur negara menggunakan sistem islam guna memanage segenap problematika dalam mengatur masyarakat, baik dalam lingkup idiologi, politik, ekonomi, hukum, sosial, dan hubungan internasional.

    Dan yang juga pasti adalah, mereka harus siap untuk mengatasi kerusakan yang telah diwariskan oleh rezim-rezim sebelumnya, berupa kerusakan lingkungan global, krisis energi, carut-marut ekonomi, dll.

    Dengan ini, cukupkah kita hanya menunggu??

    Untuk mantanHT.
    KArena khilafah yang dipahami HT menurut anda tidak benar, maka saya ingin tahu, konsep khilafah yang benar menurut anda. Silahkan tampilkan di blog anda itu! Dan saya juga ingin tahu, langkah seperti apa yang telah anda lakukan dalam konteks ini, dan tahap-tahap kedepannya akan seperti apa!?

  8. pengelolakomaht Says:

    PERTAMA untuk saudaraku co.cc :

    Hadits ahad meskipun ma’nanya mutawatir maka tetaplah hadits ahad, misalnya hadits berikut :

    Dari shahabat Muadz bin Jabal radliallahuanhu beliau menuturkan :
    “Aku pernah dibonceng Nabi diatas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku: “ Hai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ?”. Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” . Beliau pun bersabda: “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba Nya ialah supaya mereka beribadah kepada Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada Nya; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah: bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada Nya”. Aku bertanya: “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?”. Beliau menjawab: “Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri”.
    (Shahih Muslim Kitabul Iman Bab Man LaqiyAllahu ta’ala bil Iman Ghaira Syakki fihi Dakholal Jannah dan Shahih Bukhari No.2856).

    Hadits diatas hanya diriwayatkan oleh Muadz seorang diri saat ia dibonceng Nabi jadi haditsnya ahad gharib (ahad yang tunggal), namun esensi kandungan aqidahnya (kesimpulan bahwa semua muslim yang bertauhid akan masuk surga) adalah mutawatir karena ada hadits hadits lain yang isinya tentang ini meskipun sangat berbeda sama sekali lafadznya, misalnya hadits berikut :

    Nabi berkata : “Tidaklah ada seseorang manusia mengucapkan laa ilaaha illallaah kemudian ia mati dengan menetapi ucapan itu kecuali ia masuk surga.”
    Lalu bertanyalah Abu Dzar : “Meskipun orang tersebut berzina dan mencuri ?”
    Nabi menjawab : “Meskipun ia berzina dan mencuri.”
    (HSR Bukhari Muslim dari abul aswad dari abu dzar)

    Hadits ini juga ahad dari abu dzar dan berbeda isi dengan hadits pertama, namun esensi aqidahnya sama yaitu setiap muslim yang bertauhid pasti masuk surga.

    JADI PERNYATAAN ANDA BAHWA JIKA SUDAH MUTAWATIR MA’NAWY BERARTI TIDAK AHAD LAGI ITU SALAH DAN TIDAK ADA SATUPUN AHLI HADITS YANG BERKATA DEMIKIAN.
    Silahkan saudara tanyakan ke akh titok atau syabab HT lainnya yang menguasai hal ini.

    KEDUA untuk Akhwat PKS dan saudara Titok :

    Bukankah ketika Rasulullah mengabarkan bahwa penghuni neraka kebanyakan wanita karena tidak bersyukur pada suaminya, maka berarti para muslimah yang mengimani kabar ini segera memperbaiki sikapnya pada suaminya ?

    Demikian juga ketika Rasulullah mengabarkan bahwa sebelum al mahdi muncul maka dunia ini akan penuh kedzaliman atau dengan kata lain al mahdi adalah khilafah terakhir yang ditunggu, bagaimanakah sikap kita yang mengimaninya ?

    Tentu sikap kita adalah mendidik diri kita, anak-anak dan keluarga kita, masyarakat kita, agar bersiap menghadapi zaman kedzaliman dan bersiap menyongsong munculnya al mahdi dengan jalan terus mempelajari Islam yang seperti apakah yang diyakini al mahdi, jangan jangan kita berseberangan paham dengan al mahdi sehingga pada kemunculannya justru kita tidak mengenalinya dan justru memusuhinya karena ia memusuhi organisasi/ kelompok kita.
    Wallahul musta’an.

  9. fakhri Says:

    JADI PERNYATAAN ANDA BAHWA JIKA SUDAH MUTAWATIR MA’NAWY BERARTI TIDAK AHAD LAGI ITU SALAH DAN TIDAK ADA SATUPUN AHLI HADITS YANG BERKATA DEMIKIAN.
    Silahkan saudara tanyakan ke akh titok atau syabab HT lainnya yang menguasai hal ini.

    Ya Akhi Titok apa pandangan anda?

  10. titok priastomo Says:

    Soal mutawatir maknawi, Syaikh Taqiyuddiin dalam sebuah jawabannya mengatakan bahwa mutawatir maknawi itu ada dua jenis. PErtama, satu perkataan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam satu waktu yang direkam dengan berbagai redaksi oleh banyak shohabat, kemudian tersebar secara mutawatir dengan berbagai lafadz. Kedua, sebuah makna yang terkandung dalam banyak hadits, sementara hadits itu direkam dari berbagai kesempatan yang berbeda. Masing-masing hadits itu ahad, tapi mengandung muatan yang sama, maka ini mutawatir dalam makna. Menurut ASsuyuthi Contohnya adalah hadits tentang mengangkat tangan dalam doa.
    Jadi, misalnya hadits yang menyatakan “Allah mau apabila hambanya mengangkat tangan,.. dst” itu ahad, dari sisi khobarnya. Tapi, dari pensyariatan pengangkatan tangan, maka menurut As Suyuthi mutawatir.

    Untuk Mantan HT
    Yup, kali ini anda benar dalam mensikapi hadits tentang mayoritas penguhuni neraka itu.

    Tapi, anda tetap salah dalam mensikapi dalil-dalil yang anda ajukan tentang Al Mahdi. Sebab, dalil-dalil itu tidak membatasi amal kita dengan sekedar menunggu.

    Dalil Al Mahdi anda sikapi dengan tidak boleh mendirikan organisasi untuk mendirikan khilafah, dan harus menunggu Al Mahdi. Gerakan mendirikan khilafah anda anggap salah karena hasilnya justru akan menjadi musuh Al Mahdi.

    Tapi, hadits tentang mayoritas penguni neraka adalah wanita anda sikapi dengan mendidik para wanita agar tidak masuk neraka.

    Ini berarti anda tidak konsisten. Kedua hadits itu anda sikapi dengan cara yang berbeda. Seharusnya, hadits tentang mayoritas penghuni neraka itu anda sikapi sebagaimana hadits-hadits tentang Al Mahdi, yaitu dengan melarang umat Islam untuk berusaha menyelamatkan sebagian besar wanita dari neraka agar tidak bertentangan dengan hadits itu. Sebab, usaha dan dakwah untuk menyelamatkan sebagian besar wanita justru akan bertentangan dengan hadits tersebut. Namun anda pasti tahu, bahwa hal itu akan bertentangan dengan dalil-dalil mengenai kewajiban dakwah.

    Sama dalam kasus Al Mahdi. Sikap anda yang hanya menyiapkan umat untuk menunggu dan menyambut Al Mahdi akan bertentangan dengan dalil-dalil yang mewajibkan bai’at bagi umat Islam. Bukankah anda mewajibkan I’tiqod dengan hadits ahad? maka saya tanya, jika pemahaman anda tentang Al Mahdi seperti itu, lantas bagaimana kita mensikapi hadits di bawah ini:
    “barang siapa mati, sedang di pundaknya tidak ada bai’at, maka matinya mati jahiliyah”.

    Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dari jalur Abdullaah bin Muthi’. Hadits senada dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’laa, Al Bazar dan Ath Thobroniy dari jalur Amir bin Rabi’ah. Al Hakim meriwayatkan hadits senada dari Ibnu ‘Umar. Ath Thobroni juga mengeluarkan hadits semakna dari Mu’awiyah.

    Berdasarkan hadits itu, kami menyatakan bahwa wajib bagi umat Islam untuk selalu memiliki imam. Dan tatkala imam tidak ada, maka wajib untuk sesegera mungkin mencari penggantinya. Sudah saya katakan berulang-ulang, bahwa ini juga merupakan pendapat Syaikh madzhab dzohiri, Ibnu Hazm. Beliau ungkapkan itu di dalam Al Muhallaa-nya.

    Di samping itu, kewajiban untuk segera mendirikan khilafah juga datang dari fakta, bahwa tanpa khilafah ada seabrek-abrek kewajiban yang tidak bisa ditunaikan. Jangan katakan hal itu bukan tanggungan kita dan tidak akan menjadi masalah yang dihisab oleh Allah.

    Adapun perkara Imam Mahdi, hendaklah kita serahkan kepada Allah, karena itu memang urusan Allah. Kalau pun beliau menjadi kholifah, itu karena beliau sadar akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Jika beliau seperti anda, yang hanya mau menunggu, niscara beliau pun tidak akan menjadi kholifah.

    Lagi pula, banyak pertanyaan saya yang tidak anda jawab. Misalnya: Imam Mahdi itu apa menurut anda? Manusia biasa, yang pengetahuannya tentang khilafah dan langkahnya menuju khilafah bersifat manusiawi, ataukah seperti kepercayaan syi’ah yang menganggap dia memiliki ilmu laduni, dan menjadi imam tanpa proses yang manusiawi?

    Jika dia manusia biasa, tentunya dia akan didorong untuk menjadi kholifah oleh manusia yang mempelajari khilafah dengan baik, merekayasa peluang-peluang politik, dan memanfaatkannya. Bukan sekedar menunggu.

    Satu lagi, jika anda hanya menunggu, maka anda harus tahu ciri-ciri detail dari Al Mahdi Al Muntadzor ini, sehingga anda tahu bahwa ini adalah Al Mahdi. Jadi, apa saja ciri-cirinya?

    Terakhir, anda katakan ini mutawatir secara makna. Tolong sebutkan semua dalil yang menyebut kata Al Mahdi dan peristiwa penobatannya menjadi kholifah.

  11. msitompul2008 Says:

    titok said:

    ………Oya, benar, anda memang tidak berpangku tangan
    dalam konteks menyebarkan paham anda. Tapi,
    setiap target itu membutuhkan amal yang nyambung atau relevan dengan targetnya. Jika kita menghadapi musuh yang nyata tapi justru sibuk menulis, itu namanya berpangku tangan. Jika khilafah runtuh tapi tidak melakukan langkah-langkah politis untuk mendirikan khilafah, itu namanya berpangku tangan dalam konteks pendirian khilafah. Jika khilafah runtuh tapi kita hanya membicarakan hadits-hadts tentang Imam Mahdi, maka itu bukan langkah yang riil untuk mendirikan khilafah. Yang jelas, jika benar Al Mahdi adalah kholifah yang akan mengentaskan kita dari zaman kelam, maka Al Mahdi bukan dari kalangan orang yang kerjaannya sekedar menunggu, dia pastilah dari kalangan yang kreatif untuk menciptakan peluang-peluang agar khilafah tegak.

    comment:
    emang langkah-langkah politis apa yang sudah dilakukan hti dalam kerangka mewujudkan khilafah itu?? apakah sekedar seminar, demo, nulis di koran, internet, blog sudah termasuk kategori langkah-langkah politis tsb. jika iya, maka sebenarnya mas titok sudah melakukan hal yang sama dengan mas mantanht, jadi jangan memojokkan orang lain seperti komentar mas titok seperti yang saya copy paste tsb di atas donk.

    untuk mojok memojokkan orang, saya akui mas titok ini paling jago deh. udah latihan ya mas.

    tapi terlepas dari pojok memojokkan, sebagian pendapat mas mantan saya sepakati bahwa umat islam hanya akan benar-benar bisa bersatu dalam satu kepemimpinan pada masa imam mahdi-nabi isa (karena merupakan sebuah bagian dari keimanan). namun saya setuju usaha-usaha ke arah itu mau tidak mau memang harus dilakukan dari sejak masa runtuhnya khilafah itu sendiri, tapi bukan dengan cara seperti salafy or ht kali ya..tapi seperti yang sudah dirintis oleh salah satu harokah yang cukup terkenal..sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara dan kekhalifahan, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan tanpa harus menunggu dalih belum saatnya, karena kekhalifah belum datang…bla..bla..bla..

    salam seru

  12. pengelolakomaht Says:

    Jazakallah atas dukungan akh titok dalam perkara mutawatir ma’nawy semoga saudara co.cc cukup jelas dalam hal ini,

    adapun tentang al mahdi saya tidak pernah menulis mengharamkan pendirian khilafah saat ini namun titik berat saya adalah khilafah tidak mungkin berdiri sekarang dan khilafah ala manhaj nubuwwah hanya akan didirikan al mahdi kelak, demikianlah penuturan Rasulullah, bukan pendapat saya pribadi insyaAllah, dan ini adalah perkara yang sudah jelas duduk perkaranya.

    Menurut saya ini hanyalah masalah ego kelompok saja karena hizb memperjuangkan khilafahnya sehingga tulisan saya jika dipakai dianggap akan mengcounter da’wah hizb, apakah betul demikian ya akhil karim ?
    Wallahu ta’ala a’lam

  13. titok Says:

    Benar, sedikit demisedikit, tapi harus mengarah. Bukan sedikit-demi sedikit, tapi tidak mengarah ke khilafah sama sekali.

    Biar sekarang masih dalam tahap opini, itu adalah gerakan politik. Musthofa kamal attaturk gan degarak Barat untuk meruntuhkan khilafah melewati fase pengopinian yang sangat panjang, baru langkah politik praktisnya dilakukan terakhir dengan pukulan yang mematikan terhadap Abdul Majid.

    Untuk sitompul, katanya anda setuju dengan orang liberal itu yang menganggap bahwa khilafah itu cuma plintiran? Anda plin-plan si soalnya, ndak punya prinsip yang tegas, itu yang membuat anda mudah ngutip sana-sini hanya untuk seru-seruan.

    Oya, memangnya siapa sih yang Sitompul maksud telah mendirikan khilafah sedikit-sedikit itu? Kalo yang dimaksud adalah partai itu tu, maka para kadernya aja banyak yang nggak setuju sama khilafah dalam bentuk negara yang menyatukan negeri-negeri islam. Dan pemahaman mereka beraneka ragam soal khilafah, tidak jelas. Saya telah bertanya kepada banyak orang, tidak hanya di darat, tapi juga di internet, tapi jawaban mereka tidak ada yang mengarah bahwa mereka punya gambaran, langkah, dan target yang jelas soal khilafah.

    Anda bisa meremehkan soal khilafah, karena anda tidak tahu urgensinya, dan awam soal itu. Awam itu ndak masalah, tapi anda itu orang yang tidak tahu tapi merasa sudah tahu.

    Untuk mantan HT, anda pemahaman kacau

  14. msitompul2008 Says:

    titok:
    Benar, sedikit demisedikit, tapi harus mengarah. Bukan sedikit-demi sedikit, tapi tidak mengarah ke khilafah sama sekali.

    comment:
    ah klo itu mah tergantung sudut pandang dan sapa yang melihatnya mas. bagi mas titok mungkin tidak mengarah, tapi bagi saya atau orang lain bisa saja mengarah. betul tho??

    lagi pula parameter yang digunakan untuk menilainya kan terlalu luas. bisa saja fakta yang ditemui yang mengarah kesana masih sedikit sehingga sulit untuk disimpulkan atau bisa saja karena sebuah dengki sehingga tidak bisa melihat kondisi sebenarnya..(entahlah, mas titok masuk kategori yang mana)…

    titok:
    Biar sekarang masih dalam tahap opini, itu adalah gerakan politik. Musthofa kamal attaturk gan degarak Barat untuk meruntuhkan khilafah melewati fase pengopinian yang sangat panjang, baru langkah politik praktisnya dilakukan terakhir dengan pukulan yang mematikan terhadap Abdul Majid.

    comment:
    inilah yang saya katakan, dek mas titok sebenarnya tidak paham dengan apa yang den mas tulis (terlihat dari paragraf di atas, dan hampir sebagian besar tulisan di blog ini). ingat den mas, kemal attaruk itu tidak pernah meruntuhkan khalifah versi khulafahurrasyidin, tetapi dia meruntuhkan khalifah versi model pemerintahan (khilafah monarkhi ketuhanan yang dianggap oleh hti juga sebagai khilafah versi islam). klo tidak salah khilafah versi sahabat hanya sampe pada masa awal khilafah dinasti pertama (umayah ya? setelah itu ya kerajaan yang berketuhanan). jadi asumsi mas titok ini tidak tepat. pantas saja pengopinian yang hti lakukan tidak terlalu diterima masyarakat. dan terlalu banyak ulama yang tidak sepakat (contohnya ya forward2an beruntun itu). btw saya masih punya yang lain lagi lho, mau???

    titok:
    Untuk sitompul, katanya anda setuju dengan orang liberal itu yang menganggap bahwa khilafah itu cuma plintiran? Anda plin-plan si soalnya, ndak punya prinsip yang tegas, itu yang membuat anda mudah ngutip sana-sini hanya untuk seru-seruan.

    comment:
    tuh kan kembali den mas memojokkan orang lain secara sepihak?? anda tidak baca ya tulisan saya sebelumnya. ingat den mas, yang saya setuju dengan beliau itu (emang orang tsb orang liberal?? hebat amat ente bisa langsung menuduh begitu???) adalah khilafah versi hti. khilafah versi yang lain (misalnya versi ide IM, or khilafah versi imam mahdi/salafy) bagi saya masih masuk akal dan bisa saya terima. jadi yang plin plan bukan saya tapi den mas yang salah memahami he..he…

    titok:
    Oya, memangnya siapa sih yang Sitompul maksud telah mendirikan khilafah sedikit-sedikit itu? Kalo yang dimaksud adalah partai itu tu, maka para kadernya aja banyak yang nggak setuju sama khilafah dalam bentuk negara yang menyatukan negeri-negeri islam. Dan pemahaman mereka beraneka ragam soal khilafah, tidak jelas. Saya telah bertanya kepada banyak orang, tidak hanya di darat, tapi juga di internet, tapi jawaban mereka tidak ada yang mengarah bahwa mereka punya gambaran, langkah, dan target yang jelas soal khilafah.

    comment:
    setiap dakwah ada tahapan. setiap tahapan ada strateginya. bicaralah sesuai dengan bahasa kaummu. kayaknya klo den mas paham prinsif ini, den mas pasti lebih bijaksana deh he..he…

    titok:
    Anda bisa meremehkan soal khilafah, karena anda tidak tahu urgensinya, dan awam soal itu. Awam itu ndak masalah, tapi anda itu orang yang tidak tahu tapi merasa sudah tahu.

    comment:
    sebenarnya saya tahu urgensinya. cuma karena ilmu yang sedikit dan cakupan yang dibahas diluar kemampuan saya, ya saya diam saja. tidak propaganda kemana-kemana seperti anda). apalagi berani menghakimi gerakan2 lain, ya mau ga mau usilku juga kambuh deh he..he…(maaf ya..)

    menurut saya pemahaman mas titok juga tidak terlalu bagus (kacau sih ga.), tapi kok di blog ini banyak penggemarnya ya…

  15. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku,

    Pemahaman bahwa khilafah ala manhaj nubuwwah hanya akan didirikan lagi oleh al mahdi bukanlah pemahaman yang kacau karena dalilnya jelas bahwa dalam hadits khilafah dikatakan posisi terakhir kaum mukminin adalah berdirinya khilafah ala manhaj nubuwwah padahal sebelum adanya al mahdi maka dunia ini penuh dengan kedzaliman sehingga al mahdilah yang dimaksudkan dengan berdirinya khilafah ala manhaj nubuwwah ini sebagai tahapan terakhir kaum mukminin sebelum mereka diwafatkan Allah dengan tiupan angin lembut.

    Itu berarti jika Hizb mendirikan khilafah sendiri maka mungkinkah akan menjadi khilafah adil yang sesuai syari’at ?
    Hal itu akan bertentangan dengan hadits diatas saudaraku ?

    Bukankah hal seperti ini sesuatu yang sangat jelas sekali saudaraku?

    Dari Qais bin Jabir Ash Shadafi dari ayahnya dari kakeknya secara marfu’.

    ”Setelah zamanku, akan muncul para khalifah, di mana setelah para khalifah akan muncul pada akhir dan setelah para amir akan muncul para raja. Setelah para raja akan muncul para diktator, kemudian muncullah seorang laki-laki yang berasal dari umatku yang akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kedzaliman …”

    (HR. Thabrani dalam Al Kabir, lbnu Mandah, Abu Na’im dan Ibnu Asakir, juga disebutkan oleh lbnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari Juz 13, Kitab Al Ahkam halaman 214)

  16. titok Says:

    sitompul said:
    ah klo itu mah tergantung sudut pandang dan sapa yang melihatnya mas. bagi mas titok mungkin tidak mengarah, tapi bagi saya atau orang lain bisa saja mengarah. betul tho??

    lagi pula parameter yang digunakan untuk menilainya kan terlalu luas. bisa saja fakta yang ditemui yang mengarah kesana masih sedikit sehingga sulit untuk disimpulkan atau bisa saja karena sebuah dengki sehingga tidak bisa melihat kondisi sebenarnya..(entahlah, mas titok masuk kategori yang mana)…

    Coment:
    Kalo gitu soal amal riil itu juga tergantung sudut pandangnya. Bagi anda mungkin tidak riil, tidak bikin kenyang, tapi bagi saya, amal HT sangat riil dan signifikan. Tidak mungkin khilafah berdiri jika umat tidak faham akan kewajiban khilafah. Tidak bisa dipungkiri, sekarang ada jutaan orang paham bahwa khilafah wajib, dan itu tidak lepas dari amal HT dalam opininya, meski HT bukan satu-satunya. Bahkan mungkin anda tahu soal khilafah dari HT, ya ndak?.
    Saya, waktu SMA adalah anak sekuler yang tiudak suka dengan orang yang “fanatik” dengan islam, sholat 5 wkt saja tidak pernah komplit, tidak setuju dengan penyatuan agama dan politik, tidak setuju dengan satu agama yang mengatur agama lain. tapi HT membuat saya berubah, menjadi pendukung khilafah. Dan ada ribuan orang seperti saya.
    Dr. Musthofa Hilmi (bukan HT) pada tahun 78 menulis bahwa khilafah telah dlupakan oleh umat islam (lihat: nidzomul khilafah fil fikril islamiy). Muslim di indonesia umumnya belum pernah mengetahui kalo khilafah wajib, apalagi memulai langkah untuk menyusun strategi pendirian khilafah. Tapi sekarang, ada puluhan ribu pendukung khilafah di indonesia, dan puluhan ribu lain di dunia lain. HT punya kontribusi di sana.
    Pendiri HT, An Nabhaaniy, telah memulai langkah pertama untuk jalan panjang tsb. Beliau mulai sendirian. Sekarang, beliau telah berhasil menggandakan diri, ada ratusan ribu orang yang menyuarakan suara An NAbhani di negeri-negeri muslim saat ini lewat HT.
    Jika anda katakan semua amal HT itu “hanya”, tentu hal itu anda pandang sebagai perkara mudah dan sepele. jika sepele, tentu anda bisa melakukan hal yang sama seperti yang telah dimulai oleh An Nabhaaniy. Gimana, bisa buktikan!

    Atau kalo itu tidak bisa, usahakan saja anda membina 10 orang, dari yang semula sekuler menjadi berkepribadian islam, memiliki fikrah-fikrah dan tsaqofah islam, serta paham dan mendukung khilafah, dan buat seminar-seminar seperti yang dilakukan HT, bisa nggak? Kalo itu “hanya” tentu anda bisa!

    Itu saja, yang lain ndak perlu dikomentari.

  17. titok Says:

    Mantan HT said:
    Pemahaman bahwa khilafah ala manhaj nubuwwah hanya akan didirikan lagi oleh al mahdi bukanlah pemahaman yang kacau karena dalilnya jelas bahwa dalam hadits khilafah dikatakan posisi terakhir kaum mukminin adalah berdirinya khilafah ala manhaj nubuwwah padahal sebelum adanya al mahdi maka dunia ini penuh dengan kedzaliman sehingga al mahdilah yang dimaksudkan dengan berdirinya khilafah ala manhaj nubuwwah ini sebagai tahapan terakhir kaum mukminin sebelum mereka diwafatkan Allah dengan tiupan angin lembut.

    Komentar:
    Ya, oke. Tapi meniadakan usaha, dan membatasi hanya menunggu adalah hasil dari pemahaman yang kacau. Sebab, mendirikan khilafah itu tugas syar’i yang terpikul di pundak umat islam, bukan “tugas” Allah, sama seperti sholat, itu tugas kita bukan “tugas” Allah. Ibnu Hazm menyatakan bahwa batasannya dua malam saja tanpa khilafah, setelah itu tidak halal lagi. Artinya, setelah itu setiap muslim harus ikut berusaha, bukan menunggu.

    Jika HT atau muslim lain berhasil mendirikan khilafah, maka tugas mereka telah gugur dalam soal baiat. MAsalah kholifahnya nanti tidak adil, itu masalah lain. Ada kuajiban muhasabah (koreksi) lilkholifah. Kholifah adalah manusia, bisa berbuat zalim. Tapi sezalim-zalimnya kholifah, umat islam telah lepas dari dosa karena tidak punya kholifah.
    Intinya, setiap muslim harus berusaha demi tegaknya khilafah. Siapa yang hanya menunggu, maka dia telah melalaikan kewajiban.

  18. titok Says:

    Ada satu yang penting:
    Sitompul berkata:
    inilah yang saya katakan, dek mas titok sebenarnya tidak paham dengan apa yang den mas tulis (terlihat dari paragraf di atas, dan hampir sebagian besar tulisan di blog ini). ingat den mas, kemal attaruk itu tidak pernah meruntuhkan khalifah versi khulafahurrasyidin, tetapi dia meruntuhkan khalifah versi model pemerintahan (khilafah monarkhi ketuhanan yang dianggap oleh hti juga sebagai khilafah versi islam). klo tidak salah khilafah versi sahabat hanya sampe pada masa awal khilafah dinasti pertama (umayah ya? setelah itu ya kerajaan yang berketuhanan). jadi asumsi mas titok ini tidak tepat. pantas saja pengopinian yang hti lakukan tidak terlalu diterima masyarakat. dan terlalu banyak ulama yang tidak sepakat (contohnya ya forward2an beruntun itu). btw saya masih punya yang lain lagi lho, mau???

    Coment:
    Anda benar soal Turki Utsmaniy tidak seperti khulafaa’ur Rasyiddiin, dan Utsmaniyah itu melakukan banyak penyimpangan dalam pemerintahan. Tapi anda salah soal bahwa Utsmaniyah itu bukan khilafah. Sebab, penyimpangan mereka tidak sampai membuatnya keluar dari asas sebagai negara islam. Anda jangan hanya baca tulisannya salafi soal pandnganan mereka terhadap Utsmaniyah. Ndak usah diposting kesini saya juga sudah tahu.
    Tapi saya baca sumber-sumber lain, dalam bukunya Mustofa masyrur, wakil musryid aam ikhwan yang juga menyayangkan keruntuhan khilafah utsmaniyah. Juga Dr. Mustofa Hilmi dalam tesis megisternya, menyatakan hal yang sama. Dan banyak lagi. Hanya wahhabi yang tidak mengakui kekhilafahan ustmaniyah.

    Anda menyatakan saya tidak paham soal lkhilafah, dan anda paham. Bisa diadu itu. Saya tantang anda ketemu di darat untuk bahas khilafah. Kita uatkan forum untuk itu.

  19. titok Says:

    Satu lagi yang sitompul tidak paham:
    Meski khilafah yang ideal itu cuma terbatas, tapi khilafah tetap tegak dengan para kholifahnya, meski mereka tidak sesempurna khulafaaur Rasyiddiin. Kholifah itu dalam sejarah Ada yang dzalim, ada pula yang mendekati keadilan khulafaaur Rasyidiin.

    Terlepas dari itu, keberadaan para kholifah bani Umaayyah, bani Abbas, dan Bani Utsman dan negaranya telah menggugurkan kewajiban baiat. Ini yang membedakannya dengan negara-negara nasional saat ini. Dan sepanjang sejarahnya, kaum muslimin membaiat para kholifah itu, untuk taat, sampai akhirnya Utsmaniyyah runtuh. Tidak ada satu ulama pun yang mengganggap baiat terhadap bani Umayah, abbas dan utsman tidak sah, kecuali para pemberontak.

    Jika anda menganggap saya tidak paham soal ini, sekali lagi saya tantang anda untuk memahamkan saya di darat. Siapkan dalil-dalilnya, karena ini permasalahan syar’i. Kita lihat, sejauh mana kepahaman anda.

    Saya tidak mau anda hanya paste tulisan bulat-bulat. Sebab, belum tentu anda paham dengan apa yang anda copi.

  20. titok Says:

    Karena anda tahu urgensi khilafah, saya tantang anda untuk buat tulisan tentang urgensi khilafah, pol!

  21. titok Says:

    Soal orang liberal yang kamu kutip itu.

    Anda jelas tidak punya acuan pemikiran. Membedakan orang liberal dengan dengan yang bukan saja tidak bisa.

    Orang yang anda anggap pemikirannya masuk akal itukan menolak khilafah secara total, menolak negara yang menerapkan hudud, menolak negara yang menarik jizyah dari non muslim, menolak jihad ofensif terhadap darul kufur, dll. Semua itu merupakan pengingkaran thd hukum-hukum yang qoth’i. Anda setuju juga dengan hal itu?

    Satu lagi, anda tidak setuju dengan khilafah versi HT, mana yang anda tidak setuju?
    anda bilang orang liberal itu cuma membantah khilafah versi HT. Tolong buat penjelasan soal yang bisa membandingkan konsep khilafah versi HT, versi IM, dan versi salafi, apa saja yang membedakannya!

    Kita lihat, anda cuma omong doang atau benar-benar paham!

  22. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku Titok dan Sitompul, mohon dijaga kesabarannya, ingat mencari ilmu dan kebenaran itu butuh kesabaran.

    Untuk mas titok saya sudah cukup lega bahwa anda akhirnya sepaham dengan saya bahwa khilafah ala manhaj nubuwwah nanti hanya akan tegak oleh al mahdi sebagaimana berita Nabi yaitu tegak di haramain oleh ulama haramain yang membaiat penduduk haramain yang merupakan keturunan Nabi yang namanya sama dengan nama Nabi dan nama bapaknya sama dengan nama bapak Nabi.

    Adapun masalah upaya sudah saya sampaikan bahwa saya tidak pernah mengharamkan upaya selama upaya itu sesuai sunnah Nabi, sesuai tahapan da’wah Nabi, dan konsep khilafah yang diupayakan pun sesuai khilafah Nabi dan khulafaur Rasyidin.

    Begitulah pendapat saya selama ini saudaraku silahkan cek kembali tulisan2 saya jika kurang yakin dan mohon jangan ditafsirkan secara subyektif dan tendensius, semoga Allah memudahkan kita

  23. msitompul2008 Says:

    titok:
    Satu lagi, anda tidak setuju dengan khilafah versi HT, mana yang anda tidak setuju?
    anda bilang orang liberal itu cuma membantah khilafah versi HT. Tolong buat penjelasan soal yang bisa membandingkan konsep khilafah versi HT, versi IM, dan versi salafi, apa saja yang membedakannya!

    Kita lihat, anda cuma omong doang atau benar-benar paham!

    comment:
    saya omdo?? iya kali..setidak-tidaknya saya tidak menghakimi, mempropaganda bahwa gerakan lain tidak bagus, salah dsb, kan dari awal saya dah bilang, saya hanya mengharapkan berbagai harokah sejenak melupakan berbagai macam perbedaan untuk mengatasi prolematika umat ini. dan paling sebel terhadap klaim-kalim merasa benar sendiri. ente saja yang suka menuduh.

    saya malas ngulang-ngulangi lagi. baca lagi aja semua tulisan-tulisan komentator-komentator mengenai hal ini. kan diarsip tho??

    khilafah “versi salafy” mungkin sudah dijelaskan mas mantan. khilafah berbau IM mungkin dah pernah dibahas mas zulkipli. khilafah versi ht dah panjang kali lebar dibahas den mas titok. jadi kesimpulan saya, khilafah versi ht-lah yang paling tidak masuk akal dan untuk saat ini cenderung menimbulkan gejolak. itu yang saya rasakan. titik.

    titok:
    Anda jelas tidak punya acuan pemikiran. Membedakan orang liberal dengan dengan yang bukan saja tidak bisa.

    comment:
    iya deh. anda hebat. selain bisa membedakan, den mas juga bisa menghakimi. selamat…

  24. msitompul2008 Says:

    pengelolakomaht Says:

    Januari 12, 2009 at 6:08 am
    Saudaraku Titok dan Sitompul, mohon dijaga kesabarannya, ingat mencari ilmu dan kebenaran itu butuh kesabaran.

    comment:
    tenang mas mantan, jangan terkecoh penampilan luar. luarnya kelihatan “marahan” padahal sebenarnya tidak he..he..(monggo diskusi benarannya dilanjut)..

  25. msitompul2008 Says:

    titok Says:

    Januari 11, 2009 at 12:23 am
    Karena anda tahu urgensi khilafah, saya tantang anda untuk buat tulisan tentang urgensi khilafah, pol!

    comment:
    ah, saya tidak tertarik den mas. terima kasih.

  26. msitompul2008 Says:

    titok Says:

    Januari 11, 2009 at 12:20 am
    Satu lagi yang sitompul tidak paham:
    Meski khilafah yang ideal itu cuma terbatas, tapi khilafah tetap tegak dengan para kholifahnya, meski mereka tidak sesempurna khulafaaur Rasyiddiin. Kholifah itu dalam sejarah Ada yang dzalim, ada pula yang mendekati keadilan khulafaaur Rasyidiin.

    comment:
    satu saja pertanyaan saya, mengapa terjadi perubahan sistim kekhalifahan semenjak dari khafifahurrasyin,bla..bla…ampe ustmaniyah yang jika kita tinjau dari berbagai hal sangat berbeda dan tidak sama (tentunya dari sudut pandang syar’ii)

  27. titok Says:

    Komen kamu tidak layak dikomentari. Jawab tantangan saya dengan baik dan ilmiyah, baru komen kamu pantas diperhitungkan.

  28. titok Says:

    Untuk mantan HT,

    Banyak pertanyaan saya yang anda hindari dan tidak mampu anda selesaikan dengan baik

  29. tania Says:

    titok:
    Anda jelas tidak punya acuan pemikiran. Membedakan orang liberal dengan dengan yang bukan saja tidak bisa.

    comment msitompul:
    iya deh. anda hebat. selain bisa membedakan, den mas juga bisa menghakimi. selamat…

    Saya sudah baca postingan copy paste msitompul (jujur saya bingung ini cowok megang yang mana, copy pastenya kok ) yang dr Ausie itu sangat jelas dari liberal. Sepertinya tidak perlu untuk sekeren mas Titok untuk mendefinisikan tulisan nya liberal atau tidak. Saya 6 tahun yang lalu saja sudah bisa menebak, padahal saya masih sholat bolong-bolong saat itu. Apakah Msitompul sudah membaca postingan copy paste tersebut? (tanda tanya besar dikepala saya, ini hanya Ego saudara atau…memang ketidaktahuaan).

    Mas Titok keuren Pisan euy, Salut saya. :D

  30. msitompul2008 Says:

    titok Berkata:
    Januari 13, 2009 at 10:47 pm
    Komen kamu tidak layak dikomentari. Jawab tantangan saya dengan baik dan ilmiyah, baru komen kamu pantas diperhitungkan

    comment:
    maaf den mas titok. tulisan-tulisan den mas titok juga menurut saya tidaklah terlalu ilmiah (walaupun sepintas terlihat ilmiah). so, bagi saya, komentar yang layak buat tulisan-tulisan mas titok juga ya hanya seperti itu. oke..

  31. msitompul2008 Says:

    tania Berkata:
    Januari 14, 2009 at 3:02 am

    Saya sudah baca postingan copy paste msitompul (jujur saya bingung ini cowok megang yang mana, copy pastenya kok ) yang dr Ausie itu sangat jelas dari liberal. Sepertinya tidak perlu untuk sekeren mas Titok untuk mendefinisikan tulisan nya liberal atau tidak. Saya 6 tahun yang lalu saja sudah bisa menebak, padahal saya masih sholat bolong-bolong saat itu. Apakah Msitompul sudah membaca postingan copy paste tersebut? (tanda tanya besar dikepala saya, ini hanya Ego saudara atau…memang ketidaktahuaan).

    comment:
    mbak tania yang pintar menebak. boleh tau, sebenarnya bagian mana sih tulisan tsb yang liberal?? apakah karena dia tidak setuju khilafah versi ht? monggo kemampuan pintar menebaknya di sharing…

    oya, coba lihat tulisan pertama beliau tsb:

    “Tidak wajib! Yang wajib itu adalah memiliki pemimpin, yang dahulu disebut khalifah, kini bebas saja mau disebut ketua RT, kepala suku, presiden, perdana menteri, etc. Ada pemelintiran seakan-akan para ulama mewajibkan mendirikan khilafah, padahal arti kata “khilafah” dalam teks klasik tidak otomatis bermakna sistem pemerintahan Islam (SPI) yang dipercayai oleh para pejuang pro-khilafah.”…gara-gara itukah??

  32. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku,

    Bukannya bermaksud menghindari tapi merangkum menjadi satu jawaban yang sebenarnya sudah bisa menjawab pertanyaan yang lain.

    Pada intinya kan anda menyalahkan saya karena dianggap mengharamkan da’wah khilafah, nah karena itu juga saya jawab pada intinya saya tidak mengharamkan selama terpenuhi syarat-syaratnya namun menurut pengamatan saya Hizb tidak memenuhi syarat itu.

    Wallahu ta’ala a’lam

  33. naashir Says:

    Orang liberal yang ngajar di Australi itu menolak kesatuan negeri-negeri islam dalam satu pemerintahan. Saya mau tanya sama sitompul.
    1. apakah yang kamu maksud dengan khilafah versi HT itu adalah kesatuan politik islam dalam satu negara itu?
    2. Jika kamu menganggap kesatuan politik islam versi HT itu berbeda dengan versi salafi dan versi IM, tunjukkan! Tunjukkan bahwa salafi dan IM tidak setuju dengan sebuah negara yang menyatukan institusi politik islam! Dari mana referensinya. Jika kamu berhasil melakukannya, itu baru omongan kamu benar, dan ilmiyah, soal versi-versian itu. Saya melihat kamu tidak paham apa-apa soal versi-versi khilafah itu, jelas kamu ungkapkan itu hanya untuk mengacau, biar orang berfikir bahwa khilafah itu tidak ada, yang ada hanya khilafah dalam khayalan orang HT.

  34. tokohkita Says:

    Gitu Aja kok Repot
    NATO : No Action Talk Only

    Mending Gabung Ama HDI (Hizb Dakwah Islam ) aja. Memperjuangkan Syari’at Islam dan Khilafah Bersama Umat

    Dijamin Keren Habis

    Mahmud Marwan
    Syabab HDI (Hizb Dakwah Islam)
    hdipasuruan.blogspot.com

  35. abdurrahman Says:

    Wah ada yang kampanye harokah di sini, out of topic.

  36. yuta Says:

    Gw curiga, sitompul ini jangan-jangan samarannya SyaiPUL Jamil!! :)

  37. kurnia Says:

    untuk mas mantanht.emang syaratnya apa,siapa yg berhak nentuin syarat? apakah kelompok antum dah memenuhi syarat?

  38. andy Says:

    wah ternyata hti itu seperti itu ya…..

    bosen dengar teriak khilafah -khilafah, teriak doang, basi!

    gak ada bukti, tong kosong bunyinya nyaring

  39. andy Says:

    di palestina hti juga cuma teriak doang, bukannya bantuin melawan israel , malah sibuk teriak ;”khilafah-khilafah”…

    ada orang kecelakaan, bukannya bantuin, malah teriak ;” kecelakaan-kecelakaan”

    hehehehehehehehehhe

  40. naashir Says:

    Tuk Andy:

    Kalo anda juga teriak-teriak, tapi teriakannya tidak bener.

  41. ryan Says:

    assalammu’alaikum

    buat andy, antum belum mengetahui bahwa HT Palestine jg berjihad, tp tidak menggunakan nama HT. Sebaiknya, antum menggali fakta lebih dalam sebelum mengambil keputusan.

    wassalammu’alaikum

  42. dudu Says:

    @ ryan

    HT di palestine berjihad namun tidak menggunakan nama HT ?

    kayaknya gak mungkin deh.

    karena HT aja kebakaran jenggot saat nama HT gak kelihatan di FUI. akhirnya keluarlah takmim yg memecat anggota HTI yg masih ingin bertahan di FUI.

    artinya HT selalu ingin nama Hizb nya berada di paling atas dan paling depan di setiap aktifitasnya, termasuk di palestine.

  43. titok priastomo Says:

    karena HT aja kebakaran jenggot saat nama HT gak kelihatan di FUI. akhirnya keluarlah takmim yg memecat anggota HTI yg masih ingin bertahan di FUI. ”
    Koment titok, ” ha-ha, anda sok tahu banget. MAsak HT keluar dari FUI gara-gara namanya tidak tercantum di FUI. INi pasti didapat dari obrolan kelas warung kopi. Bukan itu, masalahnya lebih rumit dari sekedar “tidak tercantum namanya”, masalahnya menyangkut fikrah dan thoriqoh.

    Soal jihad, Mas DUDU akui saja bahwa anda tidak tahu. JIka anda salah ngomong, bisa jadi di akhirat anda akan berperkara dengan anggota HT yang berjihad.

  44. dudu Says:

    saya mendapat berita FUI itu dari seorang anggota HDI. karena memang aneh sekali saat HTI meninggalkan FUI yg sudah dibentuknya, saat FUI mulai bisa diterima oleh ormas2 Islam lainnya. bahkan hingga memecat anggota lainnya.

    apa sebabnya?

    masalah Jihad, saya hanya meragukan tidak memfitnah. karena HT tidak pernah terlihat dibarisan terdepan dalam usaha melawan Israel. karena di wilayah lain, setiap gerakan HT itu terlihat.

    namun…..

    dalam al-islam edisi 361, malah menuduh dan memojokkan salah satu gerakan jihad di palestina, yaitu Hamas. saya heran, kenapa bisa seperti itu? apakah seperti itu akhlaq pejuang di palestine?

    padahal semua faksi di palestine bersatu dengan hamas, kecuali fatah beserta kronconya.

    tapi semoga si penulis itu mengubah cara penilaiannya setelah melihat bagaimana perjuangan umat islam palestine yang dipimpin Hamas di perang al-furqon. sangat banyak kisah-kisah menakjubkan, dari mayat syuhada Hamas yg tersenyum dan wangi hingga kesaksian tentara israel yg melihat sejumlah pasukan berjubah putih yg misterius.

    saya berharap agar HT itu lebih lembut ketika berhadapan dengan sesama muslim, tidak mudah merendahkan orang lain. bahkan sangat terlihat sekali mantan HT itu lebih lembut dari kader HTI

    karena akhlaq itu adalah cerminan aqidah. semakin kokoh aqidah, insya Allah akan semakin tercermin dari akhlaq nya.

  45. asna Says:

    mas titok bukankah berjihad itu harus atas nama pribadi karena Allah, kok coment2 diatas seolah-olah jihad itu atas nama kelompok ya…

  46. asna Says:

    @mantan ht

    menurut pemahaman mantan ht…khilafah versi ht itu yang seperti apa sich..mas…mohon penjelasannya….

    mas titok salam kenal dari bogor…

    keep istiqomah ya…artikelnya keren tenan…

  47. titok priastomo Says:

    Untuk DUDu: Soal FUI anda tahunya dari orang HDI. Terus anda percaya sama orang HDI. KEnapa anda tidak tanya sama orang HT? Dan kepada anda tidak percaya sama orang HT. Saya kasih tahu, putusan keluar dari FUI itu karena banyak faktor yang kompleks, bukan maslah kekanak-kanak-an seperti apa yang anda sampaikan. BAhkan, masalah ini diputuskan oleh utusan Qiyadah (tim-teng), bukan oleh pengurus di Indonesia. Sory, saya jelaskan anda belum tentu paham. Jadi, silahkan kalo masih mau ngomong sesuka anda, tapi apa yang anda katakan soal FUI sangat menggelikan. Allaahu A’lam, Allaahu lebih tahu apakah saya berdusta atau anda yang tidak tahu.

    Masalah tanggapan HT terhadap gerakan palestina itu, semuanya hanya menyampaikan hukum syara’. Dan berani menyampaikan hukum syara’ adalah akhlaq yang mulia. Soal aqidah, kekuatan aqidah seseorang tercermin dengan semangat dan perjuangannya untuk mentaati dan menerapkan aturan-aturan Allah. Bohong, jika mengaku aqidahnya benar, tapi menyepelekan syariah, dan menempuh segala cara untuk mencapai tujuan tanpa memperhatikan hukum syara’.

  48. adi Says:

    Assalamu’alaikum.. Begini ya, imam mahdi itu sebenarnya sudah lahir di suatu tempat sebagai manusia biasa pada awal2 tahun 80an, dan itu bertepatan dengan thn 1400 hijriah, sekaligus tahun ini membedakan dengan syiah Rafidhah yg bodoh itu!! dalil2 lainnya yaitu akan terjadi 2 gerhana berturut turut di bulan ramadhan pertengahan dan di akhir, selisihnya 14 atau 15 hari. Faktanya itu telah terjadi pada saat bulan ramadhan tahun 1981(1401)sebanyak 2 kali di pertengahan dan akhir, dan kemudian 2 kali lagi di bulan Ramadhan thn 1982 (1402 H), kalau tidak percaya silahkan lihat tabel ilmiah tentang gerhana matahari dan bulan di situs tentang solar eclipse or lunar eclipse, dan itu bukan rahasia umum lagi di kalangan scientis, tapi para scientis tdk mengaitkan hubungan antara gerhana yg aneh itu dengan agama, khususnya Islam. kemudian beberapa tahun ke depan muncul komet Halley yg mendekati bumi yg cahayanya menembus dari timur ke barat pada tahun 1986(1406 H), kemudian terjadinya kegaduhan besar jamaah Haji (syiah dgn sunni) yg pertama kalinya pada saat menjalankan ibadah Haji di tahun 1987(1407 H) yg mengakibatkan ratusan orang tewas dan itu semua sejalan dengan hadis Rasul ttg al mahdi yg akhirnya bisa ditanggapi dengan kemajuan ilmiah modern!! liat Situs Harun Yahya tentang al mahdi!! memang menurut saya Harun Yahya tdk semuanya benar, tetapi ada yg tepat dan benarnya, mengapa? karena dia seorang yg lihai dan cerdik sekaligus jujur dalam menanggapi kasus al mahdi! jadi saya berfikir bahwa kemungkinan besarnya Al mahdi lahir tahun 1980, 81 atau 83, pokoknya awal awal thn 80. tetapi Beliau baru dikenali secara luas dan umum pada saat usianya 30-40an, itu berarti antara tahun 2010 hingga tahun 2023an, Wallahualam bishawab. Kesimpulannya agar kita para muslim melek kemajuan ilmiah!! ingat, disamping menunggu kita juga harus berusaha!! agar kita tidak dibodohi oleh orang kafir! Wassalamu’alaikum..

  49. titok priastomo Says:

    Bagus, bagi saya tidak masalah, Imam Mahdi muncul lebih cepat lebih baik. Makanya, kita harus siapkan dukungan, bukan diam.

  50. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang baik,

    Untuk itulah saya sampaikan bahwa jika anda menganggap saya mengharakan da’wah khilafah itu salah besar.

    Al Mahdi dan da’wah Islam tidak saling berbenturan.

    Namun yang yang saya sampaikan itu adalah bahwa berdasarkan kabar dari Nabi kita yang mulia, khilafah ala manhaj nubuwwah itu hanya akan berdiri oleh al mahdi bukan yang lain.
    Itulah yang disampaikan Nabi kita, mari kita yakini.

  51. msitompul2008 Says:

    ah perasaan yang mengaku tidak diam tidak lebih diam kok dari pada yang dituduh diam..dunia…dunia!!

    Cukuplah Allah menjadi saksi atas pikiran, tenaga, dana, dan pengorbanan dari orang-orang yang berjuang semampunya untuk menggalang dukungan pengembalian khilafah

  52. Adi Says:

    Assalamu’alaikum.. Saudara2 muslim sekalian..?
    Sekedar tambahan saja, bahwa telah terjadinya gempa di Italia beberapa pekan lalu yg mengakibatkan 150 orang tewas, juga telah merebaknya bencana flu babi(swine flu) di Mexico sbg pusatnya yg kemudian menyebar ke negara2 bagian USA dan juga negara2 di eropa, hal2 tersebut sangat berhubungan erat dengan hadis2 ttg al mahdi, yg diantaranya, : 1. Nabi Isa dan al mahdi bersama kaum mukmin akan membunuh(membantai babi2, dan mematahkan salib2).
    2. ketika Al mahdi bersama pasukan mukmin memasuki negara Italia (Roma), hanya dengan mengucapkan La Ilaha illallah wallahuakbar, tembok kota roma runtuh, seketika al mahdi dan pasukannya memasuki kota tersebut.
    * Kesimpulannya, : kejadian bencana flu babi dan terjadinya gempa yg paling buruk di italia( dalam 30 thn terakhir) mungkin sebagai isyarat salah satu dari sekian banyak tanda2 kedatangan al mahdi, Wallahualam Bishawab, Wassalamu’alaikum Wr.Wb..

    KOment Titok: “ah, terlalu spekulatif mas. Dalam bahasa jawa itu namanya “uthak-athik-gathuk”. Imam Mahdi itu urusan Allah. Yang menjadi urusan kita adalah memperbesar dan memperkuat dukungan untuk menegakkan agama ini secara kaaffah, melalui tegaknya khilafah.

  53. titok priastomo Says:

    Setahu saya anda tidak menganggap penting perjuangan mengembalikan khilafah. Tidak perlu ada usaha khusus untuk itu. Itu yang lucu. Saya yakin, Imam Mahdi pun butuh usaha khusus untuk mencapai khilafah. Dan orang-orang yang mendukungnya tentu harus menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, bukan hanya ngaji saja.

  54. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku Titok yang budiman,

    Yang berbeda antara HT dan jumhur da’i kaum muslimin lainnya adalah :

    1. Orientasi utama da’wah

    HT tentunya jelas sasaran utama saat ini adalah berdirinya khilafah,
    namun jumhur da’i kaum muslimin memiliki sasaran implementasi syari’ah dari yang bisa diimplementasikan saat ini.

    2. Metode da’wah (isi seruan)

    Bila aktifis HT bertemu dengan seorang muslim maka tema da’wah yang dilontarkan adalah setujukah anda dengan penerapan syari’ah Islam melalui daulah khilafah.
    Namun jumhur da’i ummat Islam lainnya akan memperbincangkan seputar arkanul Islam, arkanul Iman, wal ihsan.

    Pertanyaannya adalah manakah yang lebih sesuai dengan cara da’wah Nabi ?

    Nabi sendiri ketika berjumpa kepada seorang muslim tidak pernah menyampaikan bahwa marilah kita terapkan syariat ini lewat kekuasaan.
    Namun Nabi selalu mengajarkan hal-hal yang sifatnya diperlukan masing masing individu muslim, seperti jauhilah kesyirikan, sholatlah pada waktunya, berpuasalah, tunaikanlah zakat, berhajilah, dsb.

    Tauhid jelas prioritas da’wah Islam,
    siapa bertauhid meskipun tidak ikut menyerukan khilafah maka ia masuk surga.
    Namun siapa menyerukan khilafah tetapi tidak lurus tauhidnya maka tidak ada surga baginya.

    Apakah batasan da’wah tauhid? sampai kapan kita berda’wah tauhid? tidak bolehkah kita menyeru pada khilafah?.

    Hal inilah yang disalah artikan oleh anda dan kelompok anda.

    Da’wah Tauhid tidak ada akhirnya tidak ada batasnya, dan da’wah khilafah juga sama saja sebagimana da’wah pada syariat Islam lainnya.

    Namun setiap muslim saat ini memiliki kondisi berbeda, ketika anda bertemu dengan seorang muslim yang masih lemah tauhidnya, maka serulah ia pada tauhid, setelah ia paham maka serulah untuk sholat, dst, ajari ia apa itu Islam, bagaimana ber Islam yang benar, baru setelah itu anda boleh menawarkan ide prubahan negara menuju khilafah Islam.

    Memang di zaman Nabi memimpin Negara masih banyak kaum kuffar dan zindiq (munafik), namun saat itu UMMAT ISLAM SEMUANYA LURUS TAUHIDNYA,
    adapun saat ini UMMAT ISLAM sendiri GONCANG Tauhidnya.

    Da’wah Khilafah tidak perlu menunggu Kaum Kuffar masuk Islam semua, tidak perlu menunggu zanadiqoh bertaubat semua, NAMUN DA’WAH KHILAFAH PERLU MENUNGGU UMMAT ISLAM SENDIRI LURUS & MANTAP TAUHIDNYA.

    Wallahul musta’an.

  55. titok priastomo Says:

    Ini butuh penjelasan yang panjang.

    Tapi, simpul masalahnya adalah bahwa “mantan ht” ini tidak tahu masalahnya.

    Masalah hilangnya khilafah, itu bukan masalah reguler, tapi masalah darurat yang luar biasa. Sehingga perlu disikapi secara khusus. PErsis seperti adanya agresi musuh. Benar, tauhid itu tetap yang paling prinsip dan utama. Tapi, masalah darurat perlu juga segera diatasi. Jika ada musuh menyerang, maka kita siapkan jihad. Tidak relevan dalam situasi itu bicara “jangan fokus pada jihad, tauhid lebih utama”. Ya, tauhid dalam situasi apapun, ada serangan atau tidak, tetap lebih utama dan pertama. Tapi bukan berarti kita melupakan masalah agresi musuh. Sama seperti masalah runtuhnya khilafah. Berusaha mendirikan khilafah adalah mengatasi masalah darurat. Maka dia harus segera diatasi, agar hukum-hukum Allah kembali tegak dan kita bisa melaksanakan islam secara normal. Ini dilakukan dengan tanpa meremehkan urusan aqidah dan tauhid. bahkan wajib menarik dukungan kaum muslim dengan landasan aqidah dan tauhid. Jadi, di sini tauhid tidak di nomor duakan Ini pertama

    Kedua. Tentang HT yang fokus dengan khilafah, maka ini wajar sebagai sebuah oraganisasi. Secara lembaga, HT hanya bicara soal politik. Tapi, secara individu, anggota HT adalah muslim biasa. Dia tidak seutuhnya menjadi manusia politik. Dalam kehidupannya, dia menemukan banyak kasus. Jika ada kasus tentang jilbab, maka dia akan bicara soal jilbab. Jika ada kasus tentang muslim yang tidak solat, maka dia akan mendakwahinya agar sholat. Jika ada muslim yang melakukan bid’ah, maka dia akan bicara soal keharaman bid’ah, dst. Jadi, anda jangan menilai orang HT dari sisi keorganisasian. Sebab, organisasi itu punya target yang bersifat strageris. Jadi, jika anda katakan bahwa orang HT hanya bisa bicara khilafah, anda salah. Jangankan soal solat dan tauhid, jika santri TPA saya membunyikan huruf hijai degnan salah, saya pun akan bicara soal makhorijul huruf yang benar.

    Soal dakwah khilafah harus menunggu tauhid umat islam lurus semua, maka jelas anda tidak tahu politik. Jika demikian, sampai kiamat pun tidak akan ada yang memperjuangkan khilafah. KArena, penyimpangan itu akan senantiasa ada.

    Terakhir. Sesungguhnya HT selalu memulai dakwah dalam pembinaan khususnya dengan aqidah. aqidah dan tauhid itu harus ditanamkan sedemikian rupa sehingga membekas dan menimbulkan semangat untuk taat kepada Allah. Makanya, kemudian kami bicara soal kewajiban terikat dengan hukum Allah. Setelah itu, ditanamkan bahwa seorang muslim wajib menjalankan seluruh amalnya dengan islam. Setelah itu, dijelaskan bahwa mengamalkan islam secara kaaffah tidak mungkin hanya dalam aspek individual, tapi juga harus terwujud dalam aspek kehidupan sosial. Singkatnya, di sinilah urgensi khilafah, mewujudkan islam dalam dimensi sosial umat islam.

    Bohong, orang yang mengaku tauhidnya telah benar tapi tidak merasa resah dengan terbengkalainya hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Bohong, jika ada orang yang mengaku tauhidnya benar tapi dia masih bisa tidur nyenyak sementara negara khilafah yang menegakkan islam dan menyebarkan dakwah itu telah lenyap.

  56. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang baik,

    Lebih darurat khilafah kah daripada syariat Islam lainnya dalam rukun Islam ?

    Ketika anda bertemu muslim awam abangan manakah yang lebih darurat untuk anda serukan padanya ?

    Tengoklah saudara saudara anda sesama muslim disekitar anda, berapa persen yang beres rukun Islamnya ?

    Rasulullah dalam da’wah selalu diancam akan diserang, akan dibunuh, akan diperangi.
    Namun beliau tetap mengajarkan syariat sesuai tahapan.

    Seorang yang tauhidnya benar tidak akan bisa tidur nyenyak bila tauhid kaum muslimin lainnya belum benar.
    Berapa banyak korban ponari, berapa banyak korban dedy corbuzer, berapa banyak korban mama lorentz ? dan korban korban itu semuanya muslim, waliyaudzubillah.

  57. asna Says:

    aslm….

    untuk mas mantanht yang dirahmati Allah..

    karena anda bilang Khilafah Bentukan bakal PERANG/RIBUT/SALING BUNUH/BERANTEM sama imam mahdi….berarti anda tidak ada usaha untuk memperjuangkan Khilafah itu dunk…jadi kesimpulan saya adalah Anda hanya diam Menunggu…silahkan saja anda nunggu,kalaupun anda berdakwah tapi tidak dakwah aqidah dan khilafah karena anda takut kalo anda berusaha mendirikan khilafah kalo anda berhasil mendirikan khilafah, nanti khilafah bentukan anda akan PERANG/BERANTEM sama imam mahdi…..banyak kaum muslimin Palestina DIBANTAI sama YAHUDI LAKNATULLAH … bilang aja sama saudara kita yang di Palestina itu…SABAR SAUDARAKU, KITA TUNGGU AJA IMAM MAHDI TURUN KEBUMI…..

    Gak bakalan…??..Lho…katanya khilafah bakal berantem sama imam mahdi dengan khilafah bentukan HT….hehehe

    ibarat saya pengen dapat pekerjaan/jodoh…dan Allah udah nentuin Rizki/Jodoh setiap manusia…apakah qta harus diam (Emang Duit/jodoh dateng dari langit)…..??..tentu tidak…saya harus berusaha, berdoa,beristiqomah, bertawakal kepada Allah agar mendapatkan pekerjaan/jodoh itu…dan kalo saya udah dapet jodoh itu apakah nanti jodoh yang saya dapat dari usaha saya itu akan BERANTEM, RIBUT, PERANG sama jodoh yang udah Allah sediakan bwt saya itu..jadi bingung dech..!!…hehehe
    Astagfirullah….

    Yg saya tahu imam ahmad pernah meriwayatkan bahwa ” Constantinopel akan dibebaskan ditangan SEORANG LAKI-LAKI, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya, dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya (HR. AHMAD)

    Setelah Rasulullah mengabarkan tntang pembebasan Constantinopel lantas para Khulafurasyidin tidak berdiam diri tapi BERUSAHA untuk membebaskan kota tersebut, terbukti udah 11 kali serangan ternyata gagal membebaskan kota tersebut dan kaum muslimin selalu dipukul mundur..lalu kemudian Sultan Muhamad Al-Fatih berhasil membebaskan kota tersebut dengan USAHA, DOA, KEGIGIHAN DAN KETAKWAAN BELIAU KEPADA ALLAH kemudian Allah SWT memberikan KASIH SAYANGNYA dengan dimenangkannya pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Sultan Muhamad Al-Fatih hanya dalam tempo satu malam…..

    Mas mantan yang dirahmati Allah…dalam hadis itu tidak disebutkan ”Constantinopel akan dibebaskan ditangan Sultan Muhamad Al-Fatih…tapi dalam hadis itu disebutkan ”Ditangan Seorang laki-laki”….siapakah laki-laki itu……??….

    Apakah para khlafurasyidin berdiam diri….tentu tidak, mereka BERUSAHA supaya menjadi bagian yang disebutkan dalam bisyarah Rasulullah itu…..

    Kalo gitu udah aja diem…”jangan bebaskan kota konstantiniopel itu, tar juga ada seorang laki-laki yg membebaskannya…takut kalo kita membebaskan kota konstantinopel itu, Kita bakalan RIBUT/PERANG lagi sama SEORANG LAKI-LAKI yang disebutkan dalam bisyarah Rasulullah itu tar laki-laki itu bilang ”HEH KENAPA KAMU BEBASIN KOTA KONSTANTINOPEL ITU, ITU KHAN JATAH SAYA, KAMU MAU BERANTEM SAMA SAYA”..kira-kira begitu kali ya..

    Betul…Anda bilang kesyirikan2 meraja rela, Indonesia Carut marut, ketik reg spasi ramal, Dukun Ponari..setahu saya keadaan sistem di negeri ini kacau..karena negeri ini menerapkan sistem kapitalisme yang menguntungkan para pemilik modal…sistem kapitalisme yang masih mencengkram negeri ini….masuk akal menurut saya apa yang diserukan oleh HT..yaitu solusi problematika umat adalah kembali kepada Syariah dan khilafah…

    Kalo diterapkan syariah secara menyeluruh berati kesyirikan2 yang menguntungkan segolongan pihak bisa diblok/dibasmi….karena disamping menyesatkan ummat kapitalisme juga menjadikan negeri ini Miskin…disini peran negara pun ada….
    Qt dakwah kepada mereka/tetangga kita/saudara kita yg masih belum tahu/melakukan kesyirikan, ya kita kasih tahu dengan cara yang baik tentunya…..

    Mengenai negara yang baru terbentuk di Inggris misalnya…justru setahu saya mas mantan, disetiap negeri terus digencarkan dakwah khilafah, berusaha ditengah-tengah umat dakwah tentang Khilafah, melalui kesadaran umat tentunya tidak dengan kekerasan……

    Saya percaya ucapan Rasulullah, bagaimana dgn hadis dibawah ini :

    Siapa saja yang menghampiri kalian, sementara urusan kalian semuanya berada di tangan seseorang (yakni Khalifah), lalu ia hendak memutuskan tali ikatan kalian atau ingin memecah-belah kesatuan jama’ah kalian maka bunuhlah dia
    (HR. Muslim)
    Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terkhir diantara keduanya
    (HR. Muslim)
    Siapa saja yang telah membaiat seorang imam, lalu ia memberikan tangan dan buah hatinya (baca : kesetiaannya), maka hendaklah ia menaatinya semaksimal mungkin, kemudian, jika ada orang lain yang hendak merebut kepemimpinannya, hendaklah mereka membunuhnya….
    (HR. Muslim)

    tentu Rasulullah TIDAK INGIN kaum muslimin itu terpecah belah….

    Kalo imam mahdi Rahasia Allah, dateng Cepat itu lebih baik, Alhamdulillah…
    Tapi kita juga harus berusaha dan dengan kekuatan doa, Insha Allah semuanya bisa terwujud, Allah berkuasa atas segalanya….

    Mohon maaf kalo ada kesalahan…

    afwan mas titok udah mengganggu….

    Syukron…

    he-he-he!, ada contoh yang benar-benar unik dan lucu. Matur-nuwun atas komentarnya

  58. titok priastomo Says:

    Hehe, Darurat mana tauhid sama khilafah?
    Ini pertanyaan orang yang nggak tahu masalah. Lebih darurat mana tauhid sama sholat? Bukankah ini sulit dijawab? Sebab, urgensi mendirikan khilafah memang tidak bertentangan dengan tauhid, dan tidak perlu menyepelekan tauhid. BAhkan tauhid merupakan asas dari segala macam seruan dalam islam, termasuk dalam mendirikan khilafah.

    “Ketika anda bertemu muslim awam abangan manakah yang lebih darurat untuk anda serukan padanya ?”

    PErtanyaan ini tidak masuk sasaran untuk membubarkan usaha pendirian khilafah. Sebab Ketika saya bertemu orang yang belum benar aqidahnya, saya akan bicara aqidah. Tapi saya tidak hanya berhenti pada aqidah, saya juga akan bicara soal kewajiban-kewajiban yang ditenggung oleh umat muslim. Hingga akhirnya bicara soal khilafah. Dalam waktu satu pekan saya bisa bicarakan itu semua. He-he-he!

    “Berapa banyak korban ponari, berapa banyak korban dedy corbuzer, berapa banyak korban mama lorentz ? dan korban korban itu semuanya muslim?”

    Masalah ini semua juga tahu, tidak ada yang menganggapnya remeh. Sekarang masalahnya, apakah ini bisa selesai hanya dengan duduk di bangku ceramah? PAdahal mereka yang mempraktekkan kesyirikan itu dibackup dana dan media dalam ukuran raksasa? Coba jelaskan pada saya, gimana metode praktis menuntaskan masalah kesyirikan ini?
    Kalo saya katakan, penyimpangan aqidah itu akan ada kapan saja. Hanya masalahnya apakah penyimpangan itu ada di sistem yang benar atau tidak. Jika dia berada di tengah sistem yang tidak islami, maka dia akan dibiarkan merebak tanpa penghalang. Tapi jika dia ada di dalam sistem islam, maka dia akan ditekan dan diatasi secara hukum

  59. msitompul2008 Says:

    he..he..he…komentarmu itu juga indikasi dari orang yang tidak paham. anda ini benar-benar lucu tenan den mas wakakakak…

    anda menganggap orang lain tidak paham. sama, orang lain juga menganggap kamu tidak paham.

    dan, semakin saya membaca tulisan-tulisanmu (yang kelihatan ilmiah),aksi-aksi cherleadermu, semakin tahu saya pola pikir kalian memang tidak runtut…ndak perlu pengetahuan agama yang dalam untuk memahaminya..

    oya ya den, mas baru-baru ini saya lagi . ngumpulin buku-buku karangan ustad2 ht lho. penasaran aja, kok kader-kadernya punya kecendrungan senang banget menghakimi, gampang menuduh, hyperaktif kritis, berlagak bak ulama yang ilmunya dalam, dsb…

    Nih dia orang yang paham. He-he, untuk menulis komentar seperti punya sitompul ini, saya pikir jauh tidak memerlukan ilmu yang dalam.

  60. pengelolakomaht Says:

    Saudara asna dan titok yang dikasihi Alloh,

    Saya katakan jika khilafah HT berdiri bukan berarti pasti akan berdiri akan tetapi justru untuk menafikkan bahwa khilafah ala manhaj HT tidak akan berdiri biidznillah.
    Namun jika berdiri tentunya akan berbeda prinsip dengan khilafah al mahdi.

    Apakah saya berpangku tangan dalam syariat khilafah ?
    Tentu tidak karena saat inipun saya memperjuangkan khilafah ala manhaj nubuwwah melalui blog saya

    Jika yang anda maksudkan saya berpangku tangan atas perjuangan khilafah ala HT maka itu memang benar, khilafah ala manhaj HT berbeda dengan khilafah ala manhaj nubuwwah, sehingga tidak wajib diperjuangkan karena yang wajib diperjuangkan adalah khilafah ala manhaj nubuwwah, dengan cara perjuangan yang sesuai dengan sunnah Nabi yang kita cintai.

    Adapun mengenai kesyirikan yang merajalela maka justru aneh ketika hal itu harus menunggu khilafah yang meluruskannya,
    karena Nabi sendiri sebagian besar hidupnya digunakan untuk meluruskan tauhid ummat tanpa adanya daulah islamiyah.

    Maka da’wah Nabi seprti inilah yang kita contoh saat ini yaitu ketika kesyirikan merajalela maka Nabi menda’wahinya meski tanpa kekuasaan daulah islam.

    Sungguh ngeri saya dengan komentar saudara titok yang mengatakan apakah kesyirikian bisa diatasi dengan ceramah ceramah.

    Perlu saya sampaikan kepada saudara titok bahwa itulah yang dilakukan Nabi. Apakah anda hendak mengatakan perbuatan Nabi itu tidak efektif, tidak tepat, akan lebih baik jika berbekal kekuasaan terlebih dahulu? inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

    Ketika Nabi menda’wahi seorang yang melakukan kesyirikan maka yang disampaikan itu seputar kesyirikan tersebut, seputar tauhid, seputar keimanan, pembatal pembatal keislaman dan keimanan, sampai benar-benar orang tersebut paham dan tidak melakukan kesyirikan. Sebab percuma mengajak seorang musyrik sholat, zakat, puasa, haji, mendirikan khilafah. Semua ibadah itu tidak akan membawanya ke surga jika ia masih melakukan kesyirikan.

    Sementara saudara titok dengan entengnya mengatakan akan bicara aqidah juga kewajiban lain termasuk khilafah pada seorang yang belum benar aqidahnya dan saudara titok katakan akan mampu menyelesaikannya hanya dalam sepekan.
    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

    Sungguh jauh da’i muslim masa kini dengan tata cara da’wah Nabi mereka sendiri. Waliyaudzubillah.

  61. titok priastomo Says:

    Saya tidak mengatakan bahwa ceramah dan nasehat itu tidak perlu. Itu sangat perlu. Benar, itu dilakukan oleh Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Tapi, Nabi tidak hanya ceramah.
    Kan sudah berkali-kali saya jelaskan. Nabi ini mengemban risalah yang berat. BEliau harus mengubah masyrakat Arab yg tadinya jahiliyyah menjadi islam. Tambah lagi, beliau harus menyampaikan risalah ini ke segenap penjuru alam. Tambah lagi beliau harus mempertahankan kelangsungan hidup dari risalah ini sampai akhir zaman. Apa realistis jika ini sekedar ditempuh dengan duduk menunggu orang yang mau diceramahi?

    Itu satu hal. Hal lain, kenyataannya, masyarakat Makkah sudah sangat mengenalk ceramah2 Nabi saw selama 13 tahun. MEreka telah memahami tauhid yagn diserukan Nabi. Tapi sebagian besar orang Makkah tetap menolak. Saya tidak mengatakan dakwah beliau di Makkah gagal. Tidak, beliau berhasil sampai tahap ini. Memang karakter dari pembinaan intensif itu tidak mungkin dapat mengubah semua individu dalam masyarakat jahiliyah.

    Ada orang-orang yang umumnya dominan yang terus menerus menentang dakwah, seperti Walid bin Mughirah atau Abu Jahal. MEreka ini para pemimpin Makkah. Selama mereka masih ada dan masih memimpin, maka kondisi Makkah secara umum tidak akan berubah. KEjahiliyahan masih di atas angin. Orang-orang seperti mereka ini tidak mungkin ditaklukkan dengan ceramah. MEreka harus ditaklukkan dengan kekuatan.

    Makanya, Beliau tidak menunggu semua orang masuk islam. Beliau tidak memenangkan agama ini dengan sekedar ceramah. Setelah jumlah umat islam cukup, beliau mulai masuk ke tahap berikutnya dalam rangka menyebarkan islam, yakni mencari kekuatan politik yang mampu menopang dakwah. Anda bohong ketika mengatakan bahwa Rasulullah saw di Makkah tidak pernah mencari kekuasaan. Dalam artikel saya “Posisi Daulah Dalam Tahapan Dakwah” saya kutip beberapa dialog Nabi bersama orang-orang Arab. Di sana jelas, bahwa beliau juga membicarakan kekuasaan tentu saja setelah seruan kepada iman.

    Soal semunggu itu, ya. Aqidah Islam itu tidak rumit. Sederhana, tidak perlu kuliah lama untuk memahami dan mengimaninya. Dan setelah aqidah itu tertanam, maka terbentuklah wadah untuk menerima seluruh ajaran islam, berupa pribadi yang berkepribadian islam. Setelah itu maka berjalanlah proses berislam. Proses ini telus berlanjut sampai ajal, sebab manusia itu tidak akan pernah sempurna, akan ada terus proses belajar mempelajari islam.

    Satu lagi, tidak boleh membeda-bedakan kewajiban dari Allah. Setiap muslim harus berusaha hidup di dalam islam secara penuh. Maka, pemahaman tentang kewajiban penegakkan hukum Qishosh harus disampaikan sebagaimana hukum sholat. Pentingnya pelaksanaan jilid bagi pezina harus dijelaskan sebagaimana pentingnya shoum. PEntingnya menarik jizyah dari orang kafir harus disampaikan sebagaimana penyampaian hukum zakat, dst. Kita tidak boleh mendieskriminasikan hukum-hukum Allah. Dan ketika semua itu dijelaskan, pada saatnya, orang akan paham bahwa mereka harus memperjuangkan khilafah. Sebab tanpa khilafah, mereka tidak bisa hidup dengan kaaffah.

  62. asna Says:

    @pengelola mantan ht..

    aslm…

    Mas mantan yang dirahmati Allah……

    maksud mas titok itu tidak hanya cerama2 saja n bukan berarti mas titok meninggalkan ceramah tapi semua itu membutuhkan usaha n mengajukan solusi yang real/nyata…….

    Anda bilang…..”
    ” Tentu tidak karena saat inipun saya memperjuangkan khilafah ala manhaj nubuwwah melalui blog saya”…..
    Apakah anda tidak takut nanti khilafah bentukan anda (versi anda) akan BERPERANG/BERANTEM/RIBUT sama Imam Mahdi……katanya NUNGGU IMAM MAHDI dateng… gimana ini…???….jadi bingung saya….
    Trus dengan cara menanamkan Aqidah ummat dulu(kata anda), setelah umat faham akan khilafah & syariah, selanjutnya anda akan bagaimana mas mantan, bagaimana metode pembaiatannya..???…membaiat seseorang atau anda akan menyeru agar ummat DIAM MENUNGGU kedatangan Imam Mahdi, karena kalo anda menyuruh umat saat ini TEGAKAN KHILAFAH setelah anda mendakwahi tauhid (umat faham akan AQIDAH &SYARIAH/KHILAFAH) maka khilafah bentukan anda juga akan BERANTEM/RIBUT/PERANG sama Imam Mahdi……???….
    Ketika kaum muslimin PALETINE, IRAK, AFGANISTAN…dizolimi oleh kafir amerika, yahudi& barat lantas saudara2 kita yg dizalimi itu berteriak ”DIMANA KHALIFAH, dimana Tentara Kaum Muslimi, dimana Ummah…???….dan mereka meminta tolong terhadap kaum muslimin lain…UMMAH TOLONG KAMI..ada lagi saudara2 kita yang berteriak ”IYA KAMI SETUJU AKAN IDE KHILAFAH, TAPI TOLONG PERCEPATLAH DIRIKAN KHILAFAH ITU..SEBAB KAMI SUDAH TIDAK KUASA LAGI MELIHAT DARAH SAUDARA2 KAMI(KAUM MUSLIMIN)” lantas ada orang2 seperti anda bilang kepada saudara2 kita yg tengah dizolimi itu…KALIAN JANGAN TERIAK2 KHILAFAH..UDAH TUNGGU AJA IMAM MAHDI DATENG, KALO KALIAN BERUSAHA MENDIRIKAN KHILAFAH, SETELAH KHILAFAH BENTUKAN KALIAN ITU TERBENTUK NANTI AKAN BERANTEM/RIBUT/PERANG sama Imam Mahdi …lantas nyawa mereka keburu menghilang, dibantai sama kafir yahudi …oh alangkah tidak ada harganya NYAWA UMMAT MUHAMMAD SAW..ditengah kezaliman ketika KHILAFAH tidak ada…lantas anda menyuruh ummah DIAM TIDAK BERUSAHA MENDIRIKAN KARENA ANDA BILANG ”NANTI TERJADI KERIBUTAN/BERANTEM/PERANG sam Imam Mahdi….
    ”sesungguhnya hilangnya dunia dan seisinya itu lebih ringan disisi Allah, jika dibandingkan dengan hilangnya nyawa seorang muslim”…
    Oh iya……Waktu malam taun baru masehi kemarin…orang2 pada keluar taun baruan tapi di kampung saya ngadain ceramah/pengajian…yang ngisinya ustad dari HT lho, beliau juga membahas tentang kesyirikan/aqidah selain malam taun baruan (masehi) yang tasyabuh, bahwa kesyirikan tengah merajalela ditengah-tengah ummat, kasus ponari, kesyirikan mama loren, perekonomian yg tengah terpuruk dll beliau bahas semua, setelah itu beliau juga memaparkan/memberikan solusinya yaitu penerapan syariah & khilafah dalam seluruh aspek kehidupan…jadi ternyata beliau yang dari HT ketika dakwah ditengah-tengah masyarakat itu tidak hanya membahas khilafah saja tapi beliau juga membahas tentang kesyirikan2 ditengah-tengah umat…trus beliau paparkan n berikan solusi…jadi masuk diakal menurut saya kalo solusi yang diajukan HT itu…….

    Barakallahu fikk….

    @mas titok
    maz titok…saya masih bingung ney soal imam mahdi yang katanya beratem sama khilafah bentukan ht afwan bukan maksud bolak balik pertanyaan..melainkan saya masih bingung sama jawaban mas mantan ht yang NGACO(orang mau nerapin hukum Allah dalam bingkai Khilafah eh harus ngadepin hadangan Imam mahdi), kyaknya Sultan Muhamad Al-Fatih juga skarang mungkin Lagi Berantem kali yeh sama Seorang laki2 yg disebutkan dalam bisyarah RAsulullah itu, karena merebut JATAHNYA..hehehe..Astagfirullah…
    bener kata mas titok..kalo khilafah itu adalah bukti ketaqwaan kita kepada Allah menerapkan syariah dalam bingkai/institusi jadi byar tersusun rapi..ibarat kalo kita mau minum..tentu harus ada gelasnya bukan…kalo nggak pake gelas itu gmana jadinya mas…”kalo kita lagi di kamar pengen makan…khan Allah udah memberi rizki tar juga dateng sendiri..udeh diem aja dikamar gak usah ngambil makanan didapur nanti juga makanan itu dateng sendiri..gmana jadinya tuch perut…dijamin sakit n sama dengan MENZOLIMI DIRI SENDIRI..bener NGACO..!!……ah mas titok jawaban yang aneh ya…masih akurat jawaban n artikel antum mas titok…

    MATUR NUWUN MAS ATAS ARTIKEL2NYA…KEREN TENAN….
    :)

    KEEP SPIRIT SMOGA ALLAH MEMUDAHKAN SEGALA URUSAN BWT MAS TITOK DALAM SEGALA HAL….AMIIN..

    BARAKALLHU FIKK…

  63. Ided... Says:

    Kok omongannya slalu khilafah, akidah sm tauhid dikemanain bung. Apakah tujuan diutusnya para nabi hanya utk mendirikan khilafah? Trus bgmn pendapat anda dgn sikap Rasulullah yg pernah ditawari org2 kafir qurays utk menjadi pemimpin tp tawaran itu ditolak mentah2 pdhl kalau Nabi menerima tawaran tsb beliau pasti dpt mendirikan khilafah islamiyah dgn mudah. Apakah khilafah yg menjadi tujuan dakwah? Lantas bgmn jadinya jika khilafah sdh berdiri sedangkan para pemimpinnya n rakyatnya blm paham benar bgmn bertauhid n berakidah dgn benar?. Makanya kita mencontoh dakwah Nabi aja, beliau mengajarkan manusia berislam dgn benar sehingga apabila manusia sdh paham maka dgn otomatis akan terbentuk khilafah Islamiyah. Bukannya ketimur, utara, selatan dan barat teriak2 dirikan khilafah..dirikan khilafah..sementara celananya msh menyentuh tanah, jenggotnya dipangkas habis, bulu ketiaknya msh keliatan n msh banyak org yg datang ke ponari. Sunnah yg kecil aja blm apalagi mau mendirikan khilafah. Skali lagi khilafah bukan tujuan akhi, percuma khilafah berdiri tapi rakyatnya tdk paham bgmn Berislam dgn benar pasti tdk lama lagi pemerintahannya akan dikudeta….

    “Berkomentar, tapi tidak memperhatikan apa yang dikomentari. Hasilnya, tidak tepat sasaran”

  64. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang dikasihi Alloh,

    Sungguh kemampuan anda yang hanya butuh waktu sepekan dalam mengajarkan Islam kepada orang awam yang anda temui adalah kemampuan yang langka.
    Anda katakan dalam sepekan anda sudah mencakup Islam dari aqidah hingga daulah khilafah padahal materi aqidah saja terdiri dari ratusan hadits shohih bahkan para ulama yang menuliskan kitab aqidah terdiri dari puluhan bab dan ratusan lembar halaman kitab bahkan sampai beberapa jilid kitab.
    Rasulullah sendiri perlu waktu lebih untuk mendakwahkan Islam pada seseorang, dan anda sungguh memiliki kemampuan luar biasa melebihi para ulama besar Islam lainnya sehingga tidak pantas bagi orang seperti saya yang butuh waktu lama dalam menyampaikan risalah tauhid untuk melawan pemikiran pemikiran anda dalam sebuah diskusi.

    Untuk itu ijinkan saya menutup diskusi yang diberkahi Alloh ini dan sebagai penutup diskusi ijinkan saya yang hina ini menyampaikan beberapa hal kepada anda :

    1. Da’wah Islam jelas tidak hanya ceramah dan saya pun sudah sering sampaikan bahwa kekuasaan Islam adalah hal yang diperintahkan Alloh dalam al Qur’an, namun da’wah Islam ini dimulai oleh Nabi pada seruan tauhid karena tiada manfaat seorang yang belum lurus tauhidnya melakukan syariat Islam lainnya termasuk mendukung penegakan daulah khilafah tetap tidak kan bisa membuatnya masuk surga Alloh.

    2. Sebagian besar waktu da’wah Nabi diisi dengan da’wah aqidah bukan da’wah kekuasaan bahkan 99% isi al Qur’an dan Hadits bukanlah tentang kekuasaan. Dan bahkan hadits tentang aqidah jauh lebih banyak jumlahnya daripada hadits tentang kekuasaan.
    Ini bukti bahwa prioritas da’wah Islam bukanlah kekuasaan, dan da’wah Islam memang butuh prioritas sebagaimana yang disebutkan dalam hadits hadits shohih. Misalnya posisi tauhid yang lebih tinggi dari syariat Islam lainnya dan ini dibuktikan dengan banyak hadits yang menyatakan bahwa hanya dengan tauhid seseorang masuk surga meskipun ia banyak melakukan dosa. Begitu pula posisi sholat lima waktu yang lebih tinggi dari syariat lainnya selain tauhid dibuktikan dengan hadits amalan yang dihisab pertama dan yang menentukan adalah sholat, dan inilah ijma’ kaum muslimin selama ini.

    3. Nabi tidak pernah meminta kekuasaan dan saya sangat sedih dengan tuduhan bohong anda pada saya dalam hal ini.
    Apa yang dilakukan Nabi di Makkah adalah meminta bantuan perlindungan karena ancaman nyawa dari kaum kuffar, bukannya meminta kekuasaan.
    Anda menafsirkan riwayat riwayat yang anda cuplik sesuai kepentingan kelompok anda padahal dalam riwayat tersebut jelas maksud Nabi menanyakan kekuasaan kaum yang menawarkan diri adalah karena Nabi butuh bantuan perlindungan pada kaum itu dari serangan kafir Quraisy.
    Hal ini pun sebenarnya jelas tersebut dalam riwayat tersebut yaitu :
    Ketika Nabi mendatangi Bani Amir bin Sho’sho’ah, maka salah seorang pemimpin bani berkata: “Bagaimana pandanganmu bila kami mengikutimu untuk membela urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah urusan itu (kekuasaan) akan menjadi milik kami setelah engkau? Mendengar pertanyaan itu, belaiu menjawab: “Urusan ini (kekuasaan) terserah Allah, dan Dialah yang akan menetapkannya sesuai kehendakkanya”.
    Riwayat diatas jelas bahwa Nabi semata-mata meminta bantuan perlindungan bukannya meminta kekuasaan.
    Dalam riwayat lain Nabi menanyakan apakah kaum yang menawari perlindungan padanya itu memiliki kekuasaan karena jika kaum tersebut tidak memiliki kekuasaan maka justru akan menyebabkan kebinasaan baik pada ummat Islam maupun pada kaum itu sendiri, jadi bukannya Nabi meminta kekuasaan dari kaum itu untuk diberikan kepadanya. Kesimpulan seperti ini adalah fitnah dan kedustaan yang diatasnamakan pada Nabi, semoga Alloh menghindarkan hal seperti ini pada kaum muslimin.

  65. titok priastomo Says:

    Soal mengajari orang awam.
    Anda ini aneh. Anda mau membuat orang awam paham tauhid dan menjadi orang yang beriman dan bertaqwa atau mau membentuk orang awam menjadi ulama’?
    Kalo mau mencetak ulama, seperti yang sudah saya jelaskan, maka prosesnya memang panjang. Bahkan seumur hidup pun tidak akan selesai, karena ilmu itu sangat luas.
    Tapi, kalau anda ingin membekali orang yang masih sangat awam menjadi orang yang paham hakekat tauhid dan aqidah, serta perlunya taat kepada syariat Allah, maka itu bukan perkara yang sesulit seperti yang anda gambarkan. Sebab, agama islam itu mudah, tidak rumit. Aqidahnya manusiawi, tidak menyusahkan, sehingga orang badui pun bisa memahaminya dengan baik. Itu yang saya maksud bahwa membentuk wadah agar orang memiliki iman yang baik dan fondasi ketaqwaannya, maka itu tidak butuh bertahun-tahun seperti yang anda katakan.

    Apa benar memiliki aqidah yang benar itu harus hafal ribuan hadits? Apa benar orang awam harus menjadi ulama semua dulu baru bisa berjuang ikut menegakkan hukum-hukum Allah? Anda jangan membebani umat ini dengan hal yang tidak dibebankan oleh Allah! Tidak semua orang mampu seperti itu.

    Saya punya teman. Dulunya ugal-ugalan, suka mabuk dan ngonsumsi narkoba. Pada suatu saat tiba-tiba saja dia ikut ngaji. saat itu kami hanya mengkaji Al Baqoroh awal, yang menguraikan sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa dan sifat orang-orang munafiq. Pada saat itu juga dia berubah dan bersemangat untuk memperbaiki diri dan kehidupan masyarakatnya lewat kemenangan islam. Apa ini salah?

    Soal Nabi dalam mencari kekuasaan, itu jelas. Pertemuan beliau dengan Bani Amr bin Shosho’ah itu bukan sekedar untuk melindungi diri alias nyawa. Tapi beliau juga ingin agar kekuasaan itu melindungi dakwah, sebagaimana kekuasaan penduduk Yatsrib yang telah membela dakwah. PErlindungan terhadap dakwah artinya menerapkan islam dan mengalahkan musush-musush islam. Dengan kata lain, perlindungan yang diminta oleh Nabi saw itu berbentuk Ad Daulah Al Islamiyyah. Ini terlihat nyata dari perkataan mereka “Bagaimana pandanganmu bila kami mengikutimu untuk membela urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah urusan itu (kekuasaan) akan menjadi milik kami setelah engkau?” dari kalimat ini kita tahu, bahwa kekuasaan Bani Amir akan dimanfaatkan untuk mengalahkan musuh-musuh dakwah, sebagaimana yang di kemudian hari ditunjukkan oleh penduduk Madinah.
    Masalah inilah yang juga diminta oleh Nabi saw kepada petinggi-petinggi Quraisy. Afwan saya tidak hafal teksnya, tapi kurang lebih beliau mengatakan ” kami ingin satu kalimat yang kalian berikan kepada kami yang dengan kata itu bangsa Arab akan tunduk dan orang-orang a’jam akan membayar jizyah kepada kalian”, Mereka berkata: “apa kalimat itu?”, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “laa ilaaha illallaah”. Dari sini jelas, bahwa sejak awal, Nabi tidak hanya menjadikan tauhid sebagai aqidah ruhiyyah semata, tapi juga aqidah dalam politik. Artinya, beliau diperintahkan untuk mencari kekuasaan agar dengan kekuasaan itu manusia tunduk kepada tauhid melalui dakwah dan jihad. Wallahu a’lam.
    Jadi, kami tidak menomor-duakan misi untuk mendakwahkan tauhid kepada manusia, bahkan kami tahu bahwa dia adalah inti dari seluruh risalah samawiyyah. Tapi, kami hanya mengatakan, bahwa orang-orang yang mengaku punya komintmen kepada tauhid perlu berfikir dan berusaha untuk mengangkat misi mulia ini dengan mesin yang lebih besar, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw, yakni dengan berdirinya Daulah Islamiyyah yang akan menyebarkan tauhid itu ke seluruh alam dan meruntuhkan seluruh penghalangnya. Ini memang bukan prioritas dalam fikrah, tapi prioritas dalam amal. Sebab, mendirikan khilafah itu amal, bukan fikrah.

  66. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang baik,

    Mengajari kesalahan aqidah seseorang itu harus sampai lurus benar sebab jika tidak maka percuma saja ia diajari syariat yang lain, bahkan anda ajak mendirikan daulah pun tiada pahala baginya selama aqidahnya belum lurus benar.

    Itulah yang butuh waktu lama dan anda cukup sepekan sudah bisa meluruskan aqidah plus mengajari semua syariat Islam ?

    Adapun semua riwayat Nabi yang anda katakan merupakan bukti bahwa Nabi meminta kekuasaan itu terbukti hanyalah penafsiran anda belaka,
    padahal dzahir riwayat tidak ada satupun yang demikian karena dzahir riwayat tersebut hanya menunjukkan Nabi meminta bantuan perlindungan (suaka) dari serangan kafir Quraisy.

  67. titok priastomo Says:

    Anda katakan mengajari aqidah harus sampai lurus. BEnar, saya setuju.Tapi apa benar hanya orang yang hafal ribuan hadits saja yang aqidahnya benar. Hanya orang yang hafal kitabut Tauhid -nya Ibn Abdil Wahhab saja yang aqidahnya benar? Saya tanya: Anda hafal berapa ribu Hadits? Jika anda belum hafal ribuan hadits maka aqidah anda juga tidak benar, anda belum punya tauhid yang benar, dan tidak layak melakukan amal lain sebelum tauhid anda semperna.

    Saya katakan: Tauhid yang diajarkan para nabi Itu sederhana. Yang tidak menyembah selain Allah dan tidak taat kecuali kepada Allah. Tidak meminta petunjuk dan pertolongan kecuali kepada Allah, dll. Orang Arab pada masa rasulullah yang ikhlash memahaminya dengan singkat dan mudah. Anda jangan menakut-nakuti manusia seolah olah menjadi ahlu tauhid itu sulit.

    Ha-ha,saya tidak mengatakan bisa mengajari semua cabang aqidah dan syariat dalam sepekan. Saya cuma mengatakan membentuk wadah berupa kepribadian islam. Saya justru mengatakan proses menuntut ilmu itu tidak akan pernah sempurna dan berakhir sampai manusia mati.

    Soal rasul yang hanya minta perlindungan tanpa minta kekuasaan untuk membesarkan islam,maka itu hanya penafsiran anda yang sempit. Lihat, Bani Amir minta kekuasaan setelah Rasul saw. “apakah urusan itu (kekuasaan) akan menjadi milik kami setelah engkau?. Artinya, mereka jelas mahami bahwa rasul menuntut kekuasaan. Kemudian, setelah rasul wafat mereka minta agar kekuasaan itu kembali ke Bani Amir. Apa kurang jelas wahai “mantan HT’ dalam tanda kutip? Siapa yang mengarahkan riwayat untuk pahamnya?

  68. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang baik,

    Memang tidak perlu hafal ribuan hadits, namun untuk sampai lurus benar itu saja butuh waktu bahkan Nabi menempuhnya belasan tahun itupun tidak banyak yang bisa diluruskan sementara anda hanya hitungan pekan meluruskan satu orang berarti dua puluh orang cuma butuh lima bulan.

    Yang butuh proses belasan tahun itu adalah usaha mensosialisasikan aqidah islam kepada masyarakat Makkah, bukan kepada masing-masing individu. Itu dakwah kepada komunitas sosial. Beda dengan dakwah kepada Individu. Proses keislaman Abu Bakar sampai memiliki aqidah yang mantap apakah butuh waktu belasan tahun?
    Soal penjumlahan itu, maka ini bukan matematika. Saya katakan sepekan itu cuma gaya hiperbolik, untuk melawan pernyataan anda yang membuat masalah aqidah seperti keterampilan khusus yang harus dengan proses sulit dan panjang. Padahal islam itu sesuai fithrah, dan mudah.

    Tentang riwayat anda saya malah heran kenapa kekuasaan ditulis dalam tanda kurung, ini berarti bukan dzahir nash juga melainkan intrepretasi belaka, maka makin jauhlah riwayat tersebut dari kesimpulan anda bahwa Nabi meminta kekuasaan.
    Untuk baiknya anda tuliskan juga sanadnya supaya bisa di cek kebenaran riwayat tersebut sebab dibeberapa kitab siroh tidak ada riwayat seperti itu.

    Tentang sanad yang mencerikatan percakapan dgn Bani Amr bin Sho’sho’ah, itu ada di tulisan Ibnu Hisyam. Tentang kekuasaan, itu sudah selas dari konteks pembicaraan, seseorang yang punya akal tidak akan mampu menolak bahwa mereka sedang bicara soal kekuasaan.

  69. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang baik,

    Berikut saya sajikan bagaimana sebenarnya M.H. Haekal menulis dalam sirohnya yang berjudul Sejarah Hidup Muhammad,

    “Banu ‘Amir bin Sha’sha’a menunjukkan ambisinya, bahwa kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya, segala persoalan nanti harus berada di tangan mereka. Tetapi setelah dijawab, bahwa masalah itu berada di tangan Tuhan, merekapun lalu membuang muka dan menolaknya seperti yang lain-lain.”
    (Sumber : Sejarah Hidup Muhammad, karya : Muhammad Husain Haekal Bab VIII – Dari Pelanggaran Piagam Sampai Kepada Isra’)

    Disini terlihat sekali bahwa Nabi hanya meminta bantuan suaka namun Bani Amir yang culas memanfaatkan peluang itu untuk menguasai kaum muslimin, jadi yang menyelipkan permintaan kekuasaan itu adalah Bani Amir sedangkan Nabi sendiri hanya minta suaka saja sama sekali tidak ingin meminta kekuasaan.

    Adalah hal yang aneh jika posisi kaum muslimin yang lemah kok malah meminta kekuasaan, sehingga yang benar adalah Nabi meminta suaka dan sama sekali tidak menyinggung masalah kekuasaan apalagi memintanya.

    Justru hal yang aneh adalah: bagaimana jika yang diminta sekedar suaka, kenapa mereka bicara soal kemenangan? Maka jelas, yang diminta bukan sekedar suaka, tapi dukungan, yakni pemanfaatan kekuatan politik Bani AMir untuk menopang kemenangan islam. Artinya, kekuasaan menjadi media dalam penerapan dan penyebaran islam hingga islam tersebar di kalangan kabilah-kabilah arab karena dukungan kekuasaan itu. Itulah yang dimaksud dengan kemenangan. Jadi, bukan sekedar suaka. Lagi pula, anda kan tahu, Haikal itu sekedar melakukan analisis. Dan ini adalah analisis dari Dr. Haikal, sejarawan dan wartaawan yang mendukung pandangan Ali Abdur Raziq bahwa islam tidak pernah mensyariatkan khilafah dan pemerintahan. Apa anda gak tahu?

  70. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang bijak,

    Kondisi yang sebenarnya disaat Nabi meminta suaka (bantuan perlindungan) pada kabilah lain diluar Makkah adalah dikarenakan kaum muslimin saat itu terancam dengan pemboikotan, intimidasi, bahkan ancaman pembunuhan dan penyiksaan oleh kaum kafir Quraisy, padahal para kabilah yang dimintai suaka juga belum memeluk Islam dan masih memeluk keyakinan kafir mereka, namun kaum muslimin sudah demikian darurat kondisinya bahkan sudah tidak berani tinggal di dalam kota Makkah sementara dengan lemahnya mereka itu maka tidak ada jalan lain yaitu meminta suaka pada kabilah lain meskipun kabilah tersebut masih kafir dan belum mau memeluk Islam, sehingga datanglah Nabi pada Banu Kinda, Banu Kalb, Banu Hanifa, dan Banu ‘Amir bin Sha’sha’a. Dan apa yang dilakukan Nabi adalah memperkenalkan agama Islam dan meminta suaka.

    Adapun meminta kekuasaan seperti apa yang anda katakan adalah kesimpulan yang sangat aneh mengingat kondisi ummat Islam saat itu yang sangat lemah. Apakah lazim sebuah komunitas yang lemah dan teraniaya malah meminta kelompok kelompok yang kuat untuk menyerahkan kekuasaannya pada mereka.
    Itu adalah mustahil terjadi, kondisi ummat Islam uang lemah waktu itu memaksa untuk meminta suaka pada kabilah lain yang masih kafir, namun tidak memungkinkan untuk meminta mereka menyerahkan kekuasaannya karena bisa semakin menambah marah para kabilah itu dan justru ummat Islam bisa diperangi oleh hal itu.

    Yang aneh adalah, sebuah misi besar yang harus melawan kemusyrikan yang meraja lela, melawan kefanatikan terhadap agama berhala yang tegar tak tergoyahkan oleh hujjah yang haq, melawan kejahikiyyahan yang dibentengi oleh para pembesar dan ahli perang. Bagaimana mungkin pengembannya hanya akan melawan semua itu dengan lisan? Dan tidak memikirkan bagaimana meruntuhkan kekuatan dan kekuasaan yang mendominyasi masyarakatnya? Kenapa anti-pati kepada kekuasaan? padahal ia bukan hal yang haram, bahkan Nabi mencontohkan bagaimana harus meraihnya demi tegaknya agama dan kewibawaannya?

    Dan saya tidak melihat hal meminta kekuasaan sebagaimana yang anda tulis pada artikel-artikel anda itu terdapat dalil dari riwayat-riwayat siroh namun hal itu ternyata kesimpulan dan interpretasi anda pribadi semata terhadap riwayat yang ada.
    Hal ini sungguh berbahaya karena dapat merusak kemurnian riwayat siroh dan membuat otentitas riwayat siroh lutur dengan kesimpulan-kesimpulan anda. Perilaku seperti ini apabila dibiasakan akan menyebabkan rusaknya kemurnian agama sebagimana rusaknya agama nashrani akibat bercampurnya riwayat injil dengan pemikiran manusia pemeluknya.

    Intepretasi bahwa Nabi juga memikirkan akan adanya kekuatan dan kekuasaan yang menopang dakwah dan mengalahkan keangkuhan tokoh-tokoh musyrik adalah nyata. Bukan penyelewengan terhadap sejarah. Justru sikap anti pati terhadap aktivitas politik adalah sekedar menuruti prasangka yagn tidak jernih.

    Dan saya melihat hal ini sangat mudah dilakukan oleh para aktifis HT yaitu menyimpulkan sebuah riwayat/ dalil dengan pemahaman dan tujuan kelompok sehingga sengaja atau tidak merusak kemurnian agama, bahkan kitab kitab ulama HT sendiri tak luput dari gubahan yang masih disandarkan pada ulama lama padahal banyak tambahan baru dari orang setelahnya. Misalnya kitab Nidzamul Islam edisi awal dengan edisi akhir yang isinya sangat berbeda namun pengarangnya tetap sama yaitu Taqiyyuddin an Nabhani yang telah wafat belasan tahun silam. Sehingga bisa dikatakan kitab asli Taqiyyuddin saat ini sudah tidak ada adapun yang ada adalah kitab yang telah diubah-ubah isinya kemudian disandarkan pada Taqiyyuddin.

    Heh, itu sih karena anda tidak tahu apa yang direvisi. Kalo sekedar menambah takhrij hadits dan sedikit redaksi, seperti yang ada pada nidzomul islam dan syakhshiyyah terbitan 2002, ya tidak perlu menggganti nama pengarang. Kalo menambah bab, maka HT akan menunjukkan siapa yang menambah. Contoh, Nidzomul Hukmi, ditambah nama Abdul Qodim. Kalo tambahannya banyak, maka dibuat buku sendiri, contohnya ajhizah yang merupakan tambahan nidzomul hukmi. Anda nggak tahu sih, makanya bisa ngomong begitu. Soal merusak agama, itu karena anda berbeda pendapat dengan kami. Seandainya semua orang yang berbeda pemahaman dengan anda adalah perusak agama, niscaya yang tidak merusak agama itu cuma anda sendiri, he-he-he! Masak beda dalam analisis dianggap perusak?

  71. Arif Hakim Says:

    barakallahu fiikum jami’an…
    mas titok, bila hanya untuk membenarkan diri sendiri, tak mau mengakui khilaf, jauhlah kita dari kebenaran….

    Wa iyyaka.
    Jadi, menurut anda mana yang benar, kaum muslim yang mengaku dah beraqidah benar harus segera berusaha menerapkan seluruh syariah islam dalam dirinya dan masyarakatnya dengan terus memperbaiki diri dan ikut berusaha menegakkan islam secara kaffah dengan pendirian daulah ataukah orang yang mengatakan “penegakkan syariah lewat negara belum perlu diperjuangan sebelum semua orang beraqidah islam secara benar”? Mana yang benar?

  72. pengelolakomaht Says:

    Berikut ini saya sampaikan bukti siroh yang lebih jelas lagi tentang da’wah Nabi pada Bani Amir bin Sha’sha’ah yaitu dalam kitab siroh karya al Mubarakfury, sebagai berikut (lihat kalimat yang saya tebalkan) dan ini BUKAN INTERPRETASI saya namun DZAHIR RIWAYAT :
    - – - – - – - – - – - – -
    “Bani Amir bin Sha’sha’ah. Beliau mendatangi mereka dan menyeru mereka kepada Allah. Baiharah bin Firas, salah seorang pemuka mereka berkata, “Demi Allah, andaikan aku boleh menculik pemuda ini, tentu orang-orang arab akan melahapnya”. Kemudian ia melanjutkan, “Apa pendapatmu jika kami berbaiat kepadamu untuk mendukung agamamu, kemudian Allah memenangkan dirimu, apakah kami masih mempunyai kedudukan sepeninggalku ?”. Beliau menjawab, “Kedudukan itu hanya pada Allah, Dia meletakkan menurut kehendakNya”.
    …….
    Maka mereka semua menolak seruan beliau setelah pulang dari menunaikan haji, mereka bercerita kepada tetua mereka yang tidak bisa berangkat ke Makkah karena usianya sudah lanjut.
    “Ada seorang pemuda Quraisy dari bani Abdul Muththalib menemui kami, yang mengaku sebagai Nabi, dia mengajak kami agar mau melindunginya, berdiri bersamanya, pergi pulang ke negeri kami bersama dengannya”.
    - – - – - – - – - – - – -

    Pada riwayat yang agak berbeda lafadz dengan riwayat yang saudara tuliskan terdahulu ini terdapat kalimat yang saya tebalkan dan padanya terdapat bukti yang nyata bahwa Nabi hanya menyeru pada Islam kemudian meminta bantuan perlindungan (suaka) dan Nabi tidak pernah sekalipun meminta agar Bani Amir menyerahkan kekuasaan pada Nabi, justru Bani Amir lah yang ingin meminta kekuasaan atas Nabi dan kaum muslimin.

    Pemahaman anda soal suaka itu juga cuma penafsiran. Hanya, penafsiran anda itu lemah.
    Yang anda lupa, kami menyatakan bahwa dalam mencari kekuasaan yang akan menopang dakwah, yang pertama dan utama adalah menyeru kepada islam. Maka Nabi tidak akan menerima bantuan berupa kekuasaan dari orang-orang yang masih musyrik. ini dalam soal kekuasaan. Maka saya tidak heran jika beliau mendakwahkan islam lebih dahulu kepada kabilah-kabilah Arab yang berpotensi.
    Dan ini menunjukkan bahwa yang beliau inginkan bukan sekedar suaka, seperti penafsiran anda. Sebab dalam soal suaka, Nabi tidak mensyaratkan keislaman. Beliau menerima suaka dari siapa saja yang punya kekuatan. Beliau menerima suaka dari paman beliau, Abu Tholib. Para shohabat di Habasyah menerima suaka dari Najasy, yang pada awalnya masih ahlu kitab. Dan para shohabat yang punya kerabat kuat juga menerima suaka dari kerabatnya yang masih musyrik.
    Ini menunjukkan bahwa yang beliau minta dari Bani Amir bukan sekedar suaka. Tapi, Nabi saw. ingin agar mereka memeluk islam, kemudian membela islam dengan kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki hingga islam menuai kemenangan. Itulah yang ditunjukkan oleh dzohir riwayat. Yakni perkataan mereka bahwa mereka minta agar kekuasaan itu diwariskan kepada mereka setelah Nabi menuai kemenangan. Bukankah ini bukan sekedar suaka? Jangan mengkhianati akal anda sendiri!!
    Kekuasaan islam adalah hal yang wajib diusahakan, seperti rizqi yang harus diraih! Kekuasaan itu harus diambil dari pihak yang telah menaruh kepercayaan bulat kepada islam, baik aqidah dan syariahnya. Allah akan memenangkan agama ini, dari musuh-musuhnya, dengan hujjah dan pedang! Hujjah untuk orang-orang yang berfikir, sedang pedang untuk benteng-benteng yang menentang agama Allah!

  73. asna Says:

    asw

    susah mas titok, ngomong sama orang seperti mantanht mah…sampai kapanpun gak akan ada ujungnya…coba antum ajak ketemuan…dijamin DIA GAK AKAN PERNAH MAU….

    smoga Allah memberikan kemudah sgala urusan bwt mas titok..amiin

    keep istiqomah mas…

    matur nuwun..

    waslm

  74. Al Matarami Says:

    flu babi yg sekarang telah bermutasi menjadi H1N1 telah sangat meresahkan masyarakat dunia!! semua negara2 di dunia telah terjankiti oleh flu yg “nyeleneh” ini! dan anehnya sumber dari virus ini berasal dari negara yg non muslim (meksiko, USA), tercatat bahwa USA adalah yg paling banyak flu babinya! ini adalah azab Alloh dan sindiran kpd negara adidaya kafir tsb!! akan tetapi flu tsb tdk terjadi di negara negara muslim seperti saudi arabia (madinah dan mekkah). Di Indonesia pun flu babi sudah mewabah, tetapi belum menyeluruh, hanya di kota2 besar seperti jakarta(itupun karena kontak dgn wisatawan asing). Insya Alloh flu ini tdk menyebar ke wilayah kabupaten Bogor! Hai titok!!! sadarlah! apakah anda seorang yg mempunyai akal??! flu babi ini memiliki hubungan yg erat dgn hadits yg berkenaan ttg pembunuhan babi dan pematahan salib di masa Imam mahdi! Insya Alloh!

    Jawab Titok: Kita tidak dibebani dengan perkara-perkara di luar pengetahuan manusia

  75. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku titok yang diberkahi Alloh,

    Sungguh saya tidak menafsirkan apapun, saya hanya menuliskan riwayat siroh apa adanya, selahkan anda simak ulang :

    “Ada seorang pemuda Quraisy dari bani Abdul Muththalib menemui kami, yang mengaku sebagai Nabi, dia mengajak kami agar mau melindunginya , berdiri bersamanya, pergi pulang ke negeri kami bersama dengannya”.

    Nah, apa yang saya tulis diatas adalah isi riwayat apa adanya tanpa tafsir apapun.
    Dan dzahir riwayat diatas jelas bertentangan dengan penafsiran anda bahwa Nabi meminta kekuasaan, padahal sebagaimana riwayat diatas menurut Bani Amir bin Sha’sha’ah Nabi hanya yang mengaku sebagai Nabi, dia mengajak kami agar mau melindunginya

    Ini Dzahir riwayat lho…
    Bukan penafsiran penafsiran manusia.

    Komentar Titok: Ya, kalo dzahir riwayat dibaca tanpa dipikir memang tidak menghasilkan apa-apa selain manthuq (yang terucap). Tapi, dari dzahir riwayat itu juga tidak ada yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak bicara soal kekuasaan. Saya tanya: Bagaimana anda menjelaskan bahwa dzahir riwayat itu tidak ada kaitannya dengan usaha utk mewujudkan Negara Islam?
    Justru orang yang membaca dengan pikirannya, maka mereka akan paham bahwa perlindungan yang diinginkan oleh Nabi saw. bukan sekedar perlindungan dalam arti agar sekedar tidak dibunuh atau dianiaya orang Quraisy. Tapi, perlindungan yang diminta adalah perlindungan terhadap dakwah, yakni agar Bani Amir bin Sho’sho’ah ikut menjaga dakwah dengan kekuatan mereka, menjadikan suku mereka sebagai kekuatan politik yang menopang islam, menjadikan tentara mereka sebagai pasukan jihad yang siap mati dalam rangkan menyebarkan dan membela islam. Nah, itulah kekuasaan yang diinginkan oleh Nabi saw. Kekuasaan berupa negara yang berdiri besama Nabi saw dalam mengemban , menerapkan dan membela islam menuju kemenangan. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan mereka, “dia mengajak kami agar mau melindunginya , berdiri bersamanya, pergi pulang ke negeri kami bersama dengannya”, artinya berdiri bersama Nabi saw dalam dakwah dan dalam menghadapi musuh-musuh dakwah. Artinya, Nabi saw memang mencari sebuah kekuatan politik pada diri Bani Amr. Bagi orang yang mau memikirkan, maka Ini tak terbantahkan. Semua yang saya katakan tidak ada dalam manthuq, tapi ditunjukkan secara jelas oleh manthuq yang dzahir itu.
    Maka, Apa yang saya pahami ini justru didukung oleh dzahir riwayat. Ingat ketika salah seorang Bani Amr mengatakan, “Bagaimana pandanganmu jika kami mengikutimu untuk membela urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah urusan itu kemudian akan menjadi milik kami setelah engkau??”
    Saya tanya: urusan apakah yang diminta oleh Bani Amr kepada Nabi saw. agar Nabi saw. mewariskannya kepada mereka?? (Al Amru, dengan alif lam, ma’rifat) Apa coba maksud al amru itu?? Tentu yang mereka minta bukan urusan dakwah, sebab dakwah itu memang kewajiban setiap muslim yang tidak perlu diminta. Saya katakan: Urusan yang dimaksud adalah hasil yang diraih karena pembelaan yang mereka berikan, yang berupa kemenangan dan kekuasaan. Itulah yang mereka tuntut untuk dikembalikan kepada mereka setelah periode Nabi saw. Artinya, Nabi saw bukan sekedar meminta untuk diberi perlindungan, tapi meminta kekuatan mereka dan wewenang untuk mengatur kekuatan itu agar kekuatan yang mereka miliki itu digunakan untuk membela islam sampai meraih kemenangan, ini yang dimaksud membela Nabi dan berdiri bersama Nabi saw. Ini sangat jelas bagi orang yang mau berfikir.

  76. pengelolakomaht Says:

    Saudara yang dikasihi Allah,

    Memang benar bahwa kata al amru itu berarti Bani Amir bin Sha’sha’ah meminta imbalan kekuasaan pada Nabi namun jangan dibalik bahwa Nabi lah juga meminta kekuasaan pada Bani Amir bin Sha’sha’ah.

    Dzahir riwayat telah jelas bahwa Bani Amir bin Sha’sha’ah meminta imbalan kekuasaan jika Nabi meminta bantuan mereka namun Nabi tidak mengabulkan permintaan Bani Amir bin Sha’sha’ah tersebut karena tahu niat licik mereka untuk mencari kekuasaan belaka.
    Jadi jangan dibalik balik bahwa Nabi yang meminta kekuasaan pada Bani Amir bin Sha’sha’ah.

  77. titok priastomo Says:

    Hee, kenapa anda seperti menajiskan kekuasaan?

    Jadi jelas, jika bani Amir minta kekuasaan setelah Nabi saw., berarti rasulullah saw sedang bicara soal bagaimana membentuk kekuasaan yang kuat bersama bantuan BAni Amir bin sho’sho’ah, yang dengannya dakwah nantinya akan lebih kuat dan islam bisa diterapkan di dalamnya. Rasulullah saw. tidak melanjutkan pembicaraan dengan mereka karena mereka tidak ingin membantu Nabi saw. dengan dasar keimanan, tapi mereka sekedar mengincar kekuasaan. Jadi, Nabi saw. memang tidak sekedar minta bantuan kekuatan bani Amir, tapi sebelum itu, beliau meminta mereka untuk beriman, agar mereka memberikan segala apa yg mereka miliki kepada islam karena keimanan.

  78. pengelolakomaht Says:

    Saudaraku yang baik,

    Ini tidak ada kaitan dengan penajisan kekuasaan dan saya tidak menajiskan kekuasaan, mohon jangan membelokkan diskusi.

    Yang kita permasalahkan adalah sebuah riwayat sirah yaitu riwayat tentang Bani Amir bin Sha’sha’ah yang meminta imbalan kekuasaan pada Nabi dan dalam riwayat tersebut telah jelas disebutkan bahwa Bani Amir bin Sha’sha’ah meminta kekuasaan sedangkan Nabi meminta suaka (bantuan perlindungan).

    Jadi anda salah jika memakai dalil ini sebagai dalil Nabi meminta kekuasaan sebab yang diminta Nabi adalah suaka dan yang meminta kekuasaan adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah.

    Silahkan saja jika anda hendak mengatakan Nabi meminta kekuasaan juga TAPI JANGAN PAKAI RIWAYAT INI SEBAGAI DALIL sebab dalam riwayat ini Nabi sama sekali tidak meminta kekuasaan pada Bani Amir bin Sha’sha’ah.

    Adapun perkataan anda diatas maka jelas menyelisihi riwayat yang ada, sebab riwayat yang ada adalah :
    “Ada seorang pemuda Quraisy dari bani Abdul Muththalib menemui kami, yang mengaku sebagai Nabi, dia mengajak kami agar mau melindunginya, berdiri bersamanya, pergi pulang ke negeri kami bersama dengannya”.

    Silahkan anda lihat sendiri riwayat diatas, apakah sesuai dengan perkataan anda berikut :
    “berarti rasulullah saw sedang bicara soal bagaimana membentuk kekuasaan yang kuat bersama bantuan BAni Amir bin sho’sho’ah”

    Anda harus bertaubat karena mengatakan sesuatu yang Nabi tidak melakukannya, ini namanya memfitnah Nabi lho…

  79. titok priastomo Says:

    Kenapa anda tidak paham-paham juga.

    Anda tahu apa yang dimaksud dengan melindungi Nabi saw.?
    Melindungi beliau bukan hanya meli9ndungi keselamatan beliau. Tapi, melindungi risalah dan dakwah beliau. Anda tahu apa yang digunakan untuk melindungi risalah dan dakwah?
    Jawabnya adalah kekuasaan.
    Jadi, beliau meminta agar bani Amir menyerahkan kekuasaan mereka untuk melindungi risalah dan dakwah. Dengan kata lain menjadikan kekuasaan mereka menjadi kekuasaan yang memiliki warna islam. Itulah daulah islam.


Tinggalkan Balasan