Krisis pangan global. Artikel ini berusaha menjelaskan mengenai apa yang terjadi di balik krisis pangan dunia saat ini. Secara khusus tulisan ini akan mengupas hubungan krisis tersebut dengan karakter paten dari system financial kapitalisme yang rapuh dan manipulatif. Hal ini tidak bias dipisahkan dari keguncangan yang ditimbulkan oleh subprime mortgage yang terjadi di Amerika,. Artinya, krisis tersebut lebih merupakan dampak buruk dari system pasar financial ala kapitalisme yang berbasis pada fiat money dari pada tercipta oleh factor teknis-ekonomi yang bersifat alami (factor kelangkaan). Dan yang lebih penting lagi, tulisan ini bukan tulisan saya. Tulisan ini saya ambil dari “buku-elektronik” yang diterbitkan oleh khilafah.com berjudul “Global Credit Crunch and The Global Crisis of Capitalism” . Buku kecil ini hanya setebal 61 halaman. Terdiri dari delapan bab plus glosarium dan daftar refrensi.
Bab I adalah Pendahuluan, bab II uraian mengenai global credit crunch, bab III membahas gambaran umum mengenai perdagangan minyak dunia, bab IV berbicara tentang krisis pangan dunia, bab V mengajak pembaca untuk memahami kerapuhan system kapitalisme, bab VI memperkenalkan kita kepada system ekonomi islam, bab VII menampilkan sejarah krisis financial dalam dunia kapitalisme, dan bab VIII kesimpulan.
Buku ini sangat menantang untuk dipahami. Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari bab IV. Saya sendiri sangat meragukan hasil pembacaan saya, mengingat dalam buku ini ada beberapa idiom khusus dalam disiplin ekonomi yang tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Untuk itu lebih baik sahabat-sahabat sekalian membaca tulisan aslinya saja.
Klik di SINI untuk download. Selamat mendownload dan membaca.
Krisis pangan global[1]
(Adnan Khan)
Setelah krisis kredit macet (credit crunch crisis) mengalami “kematangan”, muncul krisis lain yang menghiasi berbagai headline surat kabar. Lonjakkan harga pangan di pasar internasional mengakibatkan inflasi global. Kenaikan gandum saja secara mengejutkan mencapai angka 120% sejak Agustus 2007, sementara harga beras naik 75% sejak Februari 2008. Pada saat Dunia Barat terhuyung-huyung karena adanya collapse yang diakibatkan oleh “hausing bubble crisis”, muncul krisis pangan yang merupakan bencana bagi dunia karena pangan merupakan unsur pokok bagi kehidupan. Para pemegang kebijakan di barat telah menolak untuk menghubungkan masalah kredit macet dengan krisis pangan dunia sebagai akibat dari langkah bank-bank investasi dan spekulan yang keluar dari sektor “sub-prime” ke sektor komoditi guna menutup kerugian mereka serta memompa gelembung lain yang akan menggantikan posisi “hausing bubble“.
Dalam rangka pengalihan perhatian, beberapa alasan dikemukakan oleh para politisi dan media-media utama barat untuk menjelaskan penyebab dari lonjakan harga yang terjadi secara tiba-tiba. Penjelasan yang paling banyak diberikan adalah bahwa permintaan akan pangan secara global meningkat selama beberapa tahun terakhir. Secara rinci mereka menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi China dan India telah memperketat suplai global untuk gandum, beras, dan jagung. Sejalan dengan peningkatan kekayaan mereka maka mereka meningkatkan permintaan produk yang berbasis pada daging, padahal produk tersebut sangatlah esensial. Mereka juga menyebutkan rendahnya hasil panen gandum, terutama di Australia yang merupakan produsen gandum terbesar kedua di dunia, sebagai akibat adanya kekeringan yang secara terus menerus melanda negeri tersebut. Alasan lain yang dikemukakan adalah adanya hama jamur yang menyerang gandum di Afrika bagian timur, Yaman, Iran, dan Pakistan. Barang tersebut mengalami kenaikan bersama-sama dengan kenaikan harga jagung yang ditanam secara besar-besaran di beberapa negara seperti Brazil dan Amerika. Negara-negara tersebut menggunakan lahan mereka untuk menanam jagung guna memproduksi bio-fuel berupa ethanol sebagai pengganti minyak bumi. Maka dari itu, berdasarkan argumen yang mereka sampaikan, lahan yang seharusnya bisa ditanami untuk gandum dan beras menjadi hilang.
Meskipun harga pangan naik (karena hal-hal tersebut) akan tetapi alasan yang mereka kemukakan tidak bisa menjelaskan kenapa harga pangan dunia bisa melonjak sedemikian tinggi hanya dalam rentang waktu yang relative singkat. Bagaimana pun klaim yang mereka kemukakan tentang jagung yang dijadikan bio-fuel, namun pada faktanya jagung hanya mengalami presentase kenaikan yang relatif rendah (31%) dibandingkan dengan kenaikan harga gandum dan beras yang mencapai tiga digit pada tahun 2008. Di samping itu, populasi penduduk China dan India tidak mungkin naik sedemikian besar dalam rentang tahun tersebut. Kenaikan harga yang terjadi juga tidak proporsional dengan tingkat pertumbuhan ekonomi mereka. Padahal India baru berkenalan dengan pasar bebas sejak permulaan 1990-an. Terlebih lagi, produksi pangan global telah meningkat dua kali lipat setara dengan pertambahan jumlah penduduk dunia dalam 25 tahun terakhir. Tahun lalu saja dunia menciptakan rekor produksi gabah sebesar 2,1 bilyun ton, meningkat 5% dari tahun sebelumnya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, meskipun 2,3 milyar ton pangan akan diproduksi pada tahun 2008, ternyata hanya 1,5 milyar ton saja yang diharapkan akan dikonsumsi.
Semua ini menunjukkan adanya kegagalan global dalam memaksimalkan pemanfaatan produksi pangan yang ada serta dalam mendistribusikan pangan secara efisien dan adil. Dalam kondisi demikian kerusakan stok pangan tidak akan bisa dihindari akibat buruknya penyimpanan, fakta ini menunjukkan bahwa kebijakan yang dibuat manusia justru mendorong pemanfaatan pangan yang jauh dari optimal serta menyianyiakannya. Uni Eropa selama bertahun-tahun telah memberikan subsidi kepada para petaninya dimelalui “Common Agricultural Programe” [CAP]. Al hasil, nantinya status kelebihan produksi akan mengambil alih dimana pada masa sebelumnya kelebihan “gunung pangan” justru sengaja dimusnahkan. Pada saat mereka mengekspor pangan kepada masyarakat miskin di belahan dunia lain, mereka menerapkan dumping sehingga harga jual pangan yang mereka hasilkan akan lebih rendah dari biaya produksi di negara-negara miskin, hal itu akan mematikan para produsen lokal. Amerika juga menyediakan subsidi bagi para petaninya. Maka pada saat IMF dan Bank Dunia memaksa negara-negara dunia ketiga untuk menghentikan segala macam bentuk dukungan yang mereka berikan kepada industri pertanian -dengan dalih efisiensi, liberalisasi pasar dan reformasi struktural- petani barat justru menikmati sebagian besar pendapatan mereka dari subsidi pemerintah.
Serangan mengejutkan yang datang dari kenaikan harga pangan diakibatkan oleh ulah para spekulan yang mencari model investasi yang jauh dari agunan, securites, dan mortgage related dept. Setelah adanya credit crunch mereka melihat adanya kondisi yang sangat buruk bagi investasi. Dengan membeli saham dari perusahaan gandum, jagung, dan minyak pada beberapa poin di waktu mendatang, menggunakan futures’ contract, tindakan spekulasi ini merupakan usaha untuk memperkaya diri sendiri di tengah situasi yang kacau.
Pada periode yang sama, berdasarkan arahan Federal Reserve Bank of Amerika, Bank Sentral memompakan ratusan milyar dolar ke dalam sistem perbankan barat guna menyelamatkan bank-bank dan sistem finansial mereka dari kebangkrutan. Ini merupakan salah satu konsekuensi yang dituai sejak Amerika melepaskan mata uangnya dari standar emas. Negara-negara barat lebih memilih untuk menjalankan suatu kebijakan moneter yang ekspansionis –dengan memberi jaminan kepada bank-bank dengan cara mencetak dan meminjami mereka uang- dari pada menghadapi konsekuaensi politik akibat bank-bank mengalami kebangkrutan (sebagaimana terlihat pada kasus Bear Stearns dan Northern Rock). Akibat yang timbul karena bertambahnya suplai uang di pasar global ini adalah inflasi global. Hal ini secara alami akan memaksa kenaikan harga barang dan jasa akibat menurunnya nilai dolar sebagai dampak dari penambahan jumlah dolar di pasaran. Peningkatan suplai uang akan diikuti oleh devaluasi nilai mata uang, dengan kata lain daya beli mata uang tersebut akan berkurang.
Seluruh komoditas perdagangan, termasuk pangan, dinilai dan diperdagangkan di pasar perdagangan dunia dengan mata uang Dolar. Dengan bertambahnya jumlah dolar di pasar internasional, krisis yang terjadi akan menjadi sangat menghawatirkan, karena pada faktanya sebagian besar negara-negara di dunia, terutama negara-negara miskin di dunia ketiga, menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dolar. Akibat menurunnya daya beli dolar, maka nilai devisa mereka juga ikut meluruh, padahal pada saat yang sama harga-harga pangan justru melonjak. Negara-negara yang kebutuhan pangannya tergantung pada impor terpukul dua kali, pasalnya dalam rangka mengimpor pangan mereka harus menggunakan cadangan dolar mereka yang daya belinya menurun (akibatnya mereka harus mengeluarkan dolar yang lebih banyak dari sebelum krisis untuk mendapatkan pangan dalam jumlah yang sama), mereka akan menggunakan kas mereka untuk membeli dolar di pasar uang guna membeli bahan pangan, ini berarti mereka harus menjual mata uang lokal untuk mendapatkan dolar (mempengaruhi tingkat pertukaran mata uang mereka, sehingga mata uang mereka turun terhadap dolar) kemudian membeli bahan pangan yang harganya terus meningkat secara kontinue. Akibatnya, harga bahan-bahan pangan serta harga barang dan jasa impor meningkat sebanding dengan dampak inflasi. The Sub-prime crisis telah “diekspor” oleh Amerika sampai ke negara-negara termiskin di dunia dalam rangka melindungi sistem finansial mereka dari keambrukan akibat bertambahnya uang kertas yang dicetak.
Media telah memfokuskan masalah pada sebab-sebab sampingan, yang mana hal itu telah menutup adanya diskusi mengenai isu dan sebab yang lebih dalam. Hamparan tanah yang luas telah digunakan untuk menghasilkan produk yang tidak penting atau menghasilkan produk yang berlebihan, seperti produksi tembakau dan gula. Terlebih lagi, 80% barang di dunia hanya diproduksi untuk melayani 20% dari penduduk dunia terkaya. Krisis pangan dunia dalam bulan-bulan yang akan datang akan berjalan lebih intensif seiring dengan pertambahan suplai uang yang terdistribusi ke pasar global secara lambat. Selama pemerintah negara-negara barat masih terus memompakan uang kedalam sistem finansial mereka yang sesat, maka babak akhir dari tekanan inflasi ini belum akan dijumpai. Dengan adanya regulasi minimal di negara-negara barat, yang terutama diakibatkan oleh adanya hubungan intim antara politisi dengan pebisnis kelas paus, kredit macet akan terwujud kembali dalam gelembung yang berbeda. Dunia mengalami kemiskinan dan kerawanan yang diakibatkan oleh kebodohan bankir-bankir barat. Semua ini memperlihatkan dengan jelas betapa kapitalisme itu sangatlah rapuh sehingga ia bisa dimanipulasi dengan mudah oleh pasar finansial yang memiliki tendensi untuk selalu menciptakan bencana setelah bencana lain terjadi.
[1] Diterjemahkan secara bebas dari chapter “global Food Crisis” dalam buku Adnan Khan “The Global Credit Crunch and The Crisis of Capitalism. Khilafah.com, Juni 2008


Juni 11, 2008 pukul 2:52 am
Tidak ada solusi selain dengan penegakan syariah Islam di dunia.
http://politik.infogue.com/krisis_pangan_global
Juli 29, 2008 pukul 3:56 pm
apapun dan bagaimanapun masalahnya islam punya solusinya “” kunjungi blok teman saya ya hhtp//:3-kusyuhono.blogspot.com