Kutukan Globalisasi[1]
Semenjak kapitalisme lahir di dunia ini, pasar bebas dan perdagangan bebas terus menyebar, berkembang menjadi satu-satunya jalan yang dipercaya bisa menghidupkan perekonomian. Pada akhir abad ke-20, ide tersebut mendapat dorongan lebih kuat melalui seruan globalisasi dan kemudian banyak negara menerima resep program “penyesuaian struktural” (stuctural adjustment) yang dilakukan oleh IMF dan Bank Dunia. Akan tetapi ide tersebut merupakan ide yang justru memberi peluang bagi problem ekonomi Amerika untuk menular ke seluruh penjuru dunia. Dalam dua dasawarsa terakhir banyak negara melakukan liberalisasi ekonomi, namun tak sedikit diantara mereka yang justru tertimpa krisis. Globalisasi juga percaya bahwa cara terbaik untuk meratakan kesejahteraan ekonomi adalah dengan menghapus segala bentuk intervensi pemerintah terhadap pasar dalam melakukan pemerataan ekonomi. Ide ini telah terbukti kesalahannya selama 200 tahun terakhir, hal itu secara garis besar tampak dalam contoh-contoh berikut:
- Argentina telah dibidik oleh IMF untuk menjadi negara percontohan dalam menerapkan kebijakan yang disarankan oleh lembaga-lembaga Bretton Wood. Namun ironisnya, negara ini justru mengalami krisis pada tahun 2001 yang tidak lain disebabkan oleh kebijakan pembatasan anggaran (budget restrictions) yang disarankan oleh IMF. Program tersebut telah mengebiri wewenang negara dalam menopang sektor-sektor krusial dalam infrastruktur nasional, seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Peran IMF di negara itu sebenarnya hanyalah untuk memastikan bahwa piutang mereka bisa kembali (berikut bunga -pent) serta memaksakan reformasi tatanan yang liberal dalam rangka menjerat Argentina ke dalam jejaring perekonomian global. Argentina diharuskan melakukan perombakan struktur perekonomianya dengan berkonsentrasi pada ekspor agar mendapatkan cukup uang sehingga mempu membayar hutangnya. Negara ini juga dipaksa untuk menghilangkan seluruh barier[2] yang bisa menghalangi transaksi perdagangan luar negeri dan investasi asing. Setelah itu, apa yang petik oleh Argentina justru serangan spekulasi terhadap mata uangnya, yang dilakukan oleh pemilik kekuatan finansial yang ingin melakukan pembantaian terhadap peso. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah ketika Argentina menghilangkan seluruh restriksi (pembatasan) terhadap pelarian modal (capital flight)[3] dalam rangka menjadi bagian dari pergerakan globalisasi. Argentina tidak akan kuasa menghentikan capital flight selama perangkat untuk menghentikannya tidak diterapkan demi memenuhi instruksi yang diberikan IMF.
- Kejatuhan komunisme pada tahun 1990 dan pecahnya Uni Soviet merupakan kesempatan besar bagi institusi-institusi kapitalis untuk mengubah raksasa ekonomi yang sentralistik menjadi ekonomi yang berorientasi pada pasar bebas. Dana sebesar $ 129 milyar membanjiri Rusia bersama IMF dan Bank Dunia yang datang untuk menerapkan development schemes (skema pembangunan) mereka. Perekonomian Rusia dibuka untuk investasi asing dan industri dijual kepada pihak asing sehingga negeri tersebut menjadi terombang-ambing dengan rapuhnya ditengah kancah perdagangan dunia. Pada tahun 1997, akibat hilangnya kepercayaan, para spekulan mulai menarik uangnya, sementara Rusia sama-sekali tidak bisa mempertahankan diri karena liberalisasi mensyaratkan tidak-adanya pembatasan terhadap aliran modal. Krisis tersebut telah meningkatkan angka kemiskinan dari 2 juta menjadi 60 juta jiwa, naik 3000%. UNICEF mencatat bahwa krisis ini menghasilkan kematian “ekstra” sebesar 500.000 jiwa per tahun. Rusia merupakan contoh konkret betapa globalisasi secara langsung telah mengijinkan krisis untuk mencapai puncaknya yang paling tinggi.
- Sampai tahun 1997, Asia menarik hampir setengah dari modal yang mengalir ke negara-negara berkembang. Perekonomian Asia Tenggara mempertahankan suku bunga tinggi sehingga menarik investor asing yang mencari tingkat pengembalian tinggi. Sebagai akibatnya, perekonomian di wilayah ini kebanjiran uang panas dalam jumlah besar dan aset-aset ekonominya mengalami kenaikan harga yang begitu dramatis. Pada saat yang sama, Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pada akhir 80-an hingga awal 90-an GDP-nya (gross national product) tumbuh 8-12%. Pencapaian yang ini telah elu-elukan sebagai “the Asian economic miracle” oleh berbagai institusi ekonomi termasuk IMF dan Bank Dunia. Namun, cerita selanjutnya berubah muram. Sejak tahun 1985 sampai 1995, ekonomi Thailand tumbuh rata-rata 9% per tahun. Pada Mei 1997, Baht digempur oleh serang spekulasi yang sangat masif, karena para investor mencoba untuk mencairkan uang mereka. Dengan menarik uang tunai dalam jumlah yang begitu besar, mereka membuat mata uang baht mengalami collapse, hal ini memicu munculnya efek domino ketika para financer kehilangan kepercayaan terhadap wilayah ini, kemudian mulai memindahkan uang mereka keluar dalam jumlah besar. Langkal tersebut menghasilkan crisis finansial yang telah mencoreng muka Asia. Satu-satunya negara di wilayah ini yang selamat dari kejatuhan adalah Malaysia, karena dia tidak dikontrol oleh propram penyesuaian structural (SAP)-nya IMF dan menerapkan aturan-aturan yang membatasi penarikan modal dari negeri tersebut, sehingga para spekulan tidak bisa sekehendak hati menarik uangnya dalam jumlah besar. Sementara wilayah yang lain membiarkan perekonomiannya dalam keadaan terbuka sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika para spekulan melakukan penarikan modal secara besar-besaran. Ini membuktikan bahwa pasar bebas merupakan sebuah masalah. Masalah ini ditangkap secara jitu oleh ahli ekonomi dari Universitas Princeton, Paul Krugman, yang berkata, “selama modal mengalir secara bebas, maka negara-negara akan terlalu lemah untuk mempertahankan diri dari serangan spekulasi, dan pembuat kebijakan akan dipaksa untuk masuk dalam “confidence game”. Maka kita kembali kepada pertanyaan apakah modal benar-benar harus dibiarkan mengalir begitu bebasnya.
- Turki pada tahun 2001 menghadapi dampak buruk akibat kebijakan globalisasi IMF, yaitu saat investor menarik sejumlah besar modal mereka. Turki dipaksa untuk mematok nilai mata uangnya dengan dolar Amerika. Pematokan mata uang itu pada prinsipnya dilakukan dengan mengaitkan nilai suatu mata uang dalam pasar terbuka dengan mata uang lain, dengan cara memelihara agar nilai tukar diantara keduanya tetap berada pada batasan yang telah disepakati. Apabila mata uang tersebut keluar dari batasan maka negara diharuskan menjual atau membeli mata uang (dengan mata uang yang dikaitkan -pent) agar ia bisa dibawa kembali ke dalam batasan yang telah ditentukan.[4] Celakanya, ketika investor berebut untuk membeli mata uang asing, Bank Sentral Turki mencapai titik dimana ia tidak mampu mensupport tingkat pertukaran (exchange rate) yang ada. sehingga ia membebaskannya, dan ini alamat bagi gegagalan dalam membayar utang. Pematokan mata uang terhadap dolar secara realistis tidak mungkin bisa berkelanjutan, sementara penerapan liberalisasi ekonomi maka masuk dan keluarnya para investor dengan membawa uangnya itu hanya soal waktu saja. Pemotokan mata uang, yang mengontrol pergerakan lira, merupakan reformasi finansial yang dilatarbelakangi oleh IMF yang dirancang khusus untuk Turki. Dengan menghilangkan pembatasan capital flight maka Turki tidak mungkin bisa mempertahankan dirinya sendiri. Akyüz dan Boratav, ahli ekonomi ternama dari turki (Akyüz merupakan direktur UNCTAD divisi Globalisation and Development Strategies dan Boratav adalah Guru Besar ekonomi di Universitas Ankara) pada saat itu berkomentar, “Dengan segala hormat, perekonomian Turki saat ini berada dalam kondisi yang lebih buruk dari kondisi saat malam dicetuskannya program stabilisasi pada desember 1999″, Kemudian mereka mengatakan, “Kebijakan didasarkan pada diagnosa yang lemah mengenai kondisi perekonomian di negeri ini sementara pihak funding melakukan eksperimen yang tidak didasari pada teori ekonomi yang cukup”.
Kapitalisme merupakan roda gerigi yang sepenuhnya dijalankan guna menciptakan kekayaan dan mempercayakan seutuhnya pengalokasian kekayaan itu kepada pasar. Aliran politik ekonomi ini telah menciptakan disparitas ekonomi yang sangat besar di negara berkembang dan menciptakaan kegagalan yang luar biasa. Para pemikir kapitalis percaya bahwa cara terbaik untuk mendistribusikan kekayaan dalam roda perekonomian adalah dengan menyerahkan alokasinya kepada pasar yang terbentuk oleh interaksi antara penawaran dan permintaan, kemudian pasar akan memberikan harta kepada siapa saja yang membutuhkannya (apa yang biasa disebut dengan “tricle-down economics”, seperti ombak besar yang menghanyutkan semua perahu, pent).
Ekonomi Amerika menghasilkan pendapatan $13 trilyun pada tahun 2006; namun demikian statistik menunjukkan bahwa sebagian besar harta terkumpul pada segelintir orang saja. Tiga belas persen dari total penduduk Amerika meraup 53% dari total pendapatan yang dihasilkan pada tahun 2006. Ini berarti, hanya 42% dari total pendapatan yang dibagi untuk 87% penduduk lainnya. Untuk alasan inilah mengapa 37 juta jiwa di Amerika hidup di bawah garis kemiskinan (dengan total pendapatan yang begitu besar, pent). Juga mengapa utang Amerika menggunung sampai $ 9,1 trilyun (2007), Itu karena masyarakat kebanyakan mendanai gaya hidup mereka dengan hutang, sementara kekayaan hanya digenggam oleh beberapa orang terpilih.
Amerika menderita defisit perdagangan dan problem hutang. Karena adanya globalisasi, pasar bebas, dan dolar Amerika, negara itu bisa mentrasnfer hutangnya ke luar negeri. Jika Dolar Amerika tidak digunakan sebagai cadangan devisa dan negara-negara menerapkan pembatasan terhadap perdagangan dan arus finansial di negerinya masing-masing, maka perekonomian Amerika tidak akan bisa bertahan. Maka dari itu, masalah perekonomian Amerika bisa mewabah ke seluruh dunia akibat adanya globalisasi.
Distribusi ekonomi di Inggris bahkan lebih timpang lagi. Pada tahun 2006, 90% dari pendapatan yang ada hanya dipegang oleh setengah dari populasi di Inggris. Orang-orang terkaya yang hanya 1% dari total penduduk Inggris menguasai 25% pendapatan nasional. Meskipun pendapatan nasional meningkat dalam satu dasawarsa terakhir akan tetapi mayoritas dari populasinya tidak pernah menikmati peningkatan kemakmuran tersebut, mereka dipaksa untuk berhutang dan hal ini membuat konsumsi hutang justru lebih besar dari pendapatan nasional yang ada.
[1] Diterjemahkan dari The Globalisatin Curse
[2] Barier, adalah regulasi negara yang “mengganggu” pasar dan perdagangan bebas. Barier perdagangan antar negara contohnya antara lain tarif, kuota, dan subsidi, sedangkan barier investasi antara lain restriksi aliran modal, pent.
[3] Capital Flight, yakni cabutnya para investor dari pasar lokal dengan membawa dolar mereka, otomatis berimplikasi pada tingginya permintaan dolar di dalam negeri sehingga nilai mata uang lokal akan turun terhadap dolar.
[4] Artinya, bank sentral Turki memiliki kewajiban untuk memelihara nilai tukar lira terhadap dolar AS. Jika permintaan dolar di pasar turki naik, maka dia harus mempertahankan nilai lira dengan cara memborong lira menggunakan dolar. Itu artinya cadangan dolar bank sentral akan terkuras jika ada pergerakan investor yang keluar dalam jumlah besar, pent.


Juni 14, 2008 pukul 11:16 pm
Dalam bab-bab selanjutnya, penulis (Adnan khan) menjelaskan, bahwa restriksi bukanlah solusi fundamental. YAng menjadi masalah utama adalah konstruksi pasar modal itu sendiri yang didasarkan pada akad-akad yagn tidak benar (sehingga pemodal bisa lari kesana kemari), dan yang lebih penting lagi adalah standar mata uang yang tidak berbasis pada nilai intrinsik. Inilah yang memberi pluang bagi spekulasi untuk hidup, dan terus membuat boom and bust secara reguler.
Juni 26, 2008 pukul 2:36 am
Pembatasan modal memang bukan solusi, begitu pula aliran modal yang terlalu bebas karena kedua hal ini bisa membuka celah bagi para pemilik modal untuk meraup keuntungan berlipat-lipat tanpa syar’i.
Perhatian semestinya lebih terfokus kepada mekanisme kerja; sehingga jelas akad dan bentuk kerja sama antara pemilik dan investor. Apabila akad dan bentuk kerja samanya ternyata tidak berbasis syariah, tidak ada alasan lain, wajib ditolak. Prinsip inilah yang masih belum dijadikan pedoman oleh para pemimpin dunia dalam menjalankan perekonomiannya; yang pada akhirnya kutukan atau petaka menimpa mereka.
Juni 27, 2008 pukul 11:17 pm
Syukran, selama akhi untuk lahirnya si kecil, subhaanallah, perasaan baru kemarin antum pulang, sekarang dah jadi seorang ayah. Subhanallah yaa Aba Muhammad!