Virus “Boom and Bust” / kembang-kempis
Kenaikan harga barang di dunia dan krisis kredit sekali lagi telah memunculkan perbincangan mengenai “kenapa gelembung (spekulasi) bisa terus tumbuh sebelum akhirnya sampai pada titik balik, dan mengapa fenomena “boom and bust” seperti itu menjadi suatu hal yang lazim terjadi di barat? Fenomena boom and bust atau yang biasa disebut dengan siklus ekonomi menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dari kapitalisme dan kehidupan modern abad 21. Meski demikian, bust (penurunan performa ekonomi -pent), colleps, dan titik balik memiliki konsekuensi yang begitu luas, apa yang terjadi pada masa lalu telah menunjukkan adanya bencana yang sangat mengerikan.
Siklus boom and bust dan segala konsekuensinya merupakan hasil langsung dari hasrat kapitalisme dalam capian ekonomi, yang tidak lain adalah pertumbuhan ekonomi yang terus menerus. Ekonomi kapitalis hanya didasarkan pada produksi, sedangkan konsumen akan membeli apa yang diproduksi. Krisis yang terjadi saat ini menunjukkan hal itu secara gamblang, ketika baik para investor mau pun para konsumen dibombardir oleh seabrek informasi yang memberitakan tentang apa yang harus dibeli dan apa yang nantinya akan menjadi big boom. Sama seperti di Inggris, pertumbuhan ekonomi yang dialami Amerika yang dimotori oleh penggembungan hutang pribadi, yang awalnya didorong oleh tingginya harga perumahan. Karena biaya perumahan meningkat, maka para pemilik rumah mulai meningkatkan pinjaman pribadi mereka, menawarkan ekuitas perumahan sebagai jaminan. Tindakan menggadaikan rumah untuk membiayai gaya hidup yang hingar-bingar merupakan fenomena yang merebak di luas di Amerika. Selama harga perumahan terus meningkat, maka para konsumen bisa terus mencairkan hutang yang lebih besar sejalan dengan nilai rumah yang mereka miliki. Praktek ini sudah berkembang sejak tahun 90-an, dan kita sekarang menghadapi situasi dimana harga rumah melambung begitu tingginya, bisa melampaui jumlah gaji hingga berkali-kali lipat. Kemudian situasinya mencapai titik yang begitu berbahaya dimana hutang harus dibayar namun harga rumah sudah terlanjur naik sedemikian tingginya sehingga terlalu mahal untuk bisa dibeli oleh orang lain (harga rumah di pasar sudah pol, tidak bisa dipaksa naik lagi -pent). Situasi ini (melambungnya harga rumah) tidak mungkin bisa terus berlangsung. Peningkatan harga rumah bukan disebabkan oleh kebutuhan, tapi oleh spekulasi. Para spekulator mencari keuntungan dengan membeli rumah, mereka “menumpuk” rumah-rumah itu untuk kemudian menjualnya demi harga yang lebih tinggi. Proses spekulasi ini terus berlangsung selama para spekulan masih yakin bahwa harga rumah akan terus naik. Padahal, dibalik semua itu, mereka membiayai spekulasi ini dengan berhutang.
Selama ledakan ekonomi yang terjadi di barat masih didasari oleh “confidence” (spekulasi), maka mereka akan tetap menjadi mangsa dari si ketidakpastian. Kepercayaan itu bisa rontok jika masyarakat mulai merasakan indikator-indikator ekonomi yang menunjukkan adanya ketidak-beresan dalam perekonomian dunia. Inilah yang terjadi pada Agustus 2007 dengan adanya panic selling di pasar-pasar finansial dunia. Kita menyaksikan adanya ketidakmampuan, baik pada perseorangan maupun perbankan besar, untuk membayar hutang. Ketika masyarakat mulai merasakan hal tersebut, maka pasar pun akan segera dibanjiri oleh orang-orang yang ingin secepatnya menjual rumah-rumah mereka sebelum harga mulai terjun bebas dari ketinggian. Semakin banyak rumah yang masuk ke pasar, maka terciptalah turunan harga yang tajam akibat melimpahnya suplai perumahan, hal ini hanya akan membuat masyarakat semakin panik sehingga semakin banyak pula orang yang berusaha menjual rumah sehingga penurunan harga pun akan terus berlanjut. Kejadian ini akan memberi pukulan telak pada sektor ekonomi lain yang begitu yakin terhadap tingkat kepercayaan bisnis real estate, yang kemudian juga berdampak pada bagian dunia yang menggantungkan sebagian besar volume ekspornya kepada Amerika. Inilah yang sebenarnya terjadi pada Agustus 2007.
Sekenarionya persis seperti apa yang terjadi pada peristiwa great depression, di mana Barat benar-benar merasakan suatu bentuk kemabrukan ekonomi. Masalahnya dimulai di Amerika pasca PD I , saat negara itu memulai periode isolasi. Amerika mengkonsentrasikan diri pada individualisme, di mana pada saat itu ambisi Amerika menggenjot pengembangan barang-barang kebutuhan sebagai upaya untuk mencapai kemakmuran. Permintaan dirangsang menggunakan metode marketing terbaru sehingga Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang belum pernah dicapai pada masa sebelumnya, di mana pada saat itu banyak orang bisa menjadi seorang jutawan hanya dalam semalam akibat ada kenaikan produksi nasional yang luar bisa besar. Namun demikian, sampai pada tahun 1927, rakyat Amerika membeli berbagai barang dengan jalan meminjam uang secara kontinue, bahkan bangkitnya perdagangan saham sepanjang dekade 1920-an dicapai dengan hutang. Kemakmuran yang baru tumbuh ini tidak didistribusikan dengan menggunakan cara yang adil, sehingga keretakan mulai terlihat pada tahun 1927. Masalahnya ada pada fakta bahwa peningkatan taraf ekonomi yang sangat besar itu hanya dinikmati oleh segelintir orang, sementara mayoritas warga tidak menikmati buah dari peningkatan pendapatan nasional, bahkan justru hidup dengan terus meminjam uang untuk bisa mengikuti ritme dari lonjakan ekonomi yang terjadi. Di bawah pimpinan Herbert Hoover, Amerika ingin merangsang pertumbuhan ekonomi pasca PD I, menciptakan permintaan dengan menggelembungkan konsumsi barang sampai pada tingkat kepuasan puncak, hasilnya adalah meningkatnya pembelian barang-barang konsumsi dan baran-barang mewah. Situasi ini mampu meyakinkan perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, sehingga rakyat Amerika akan mendapatkan pekerjaan. Namun demikian, sebagian besar dari gaya hidup yang boros ini di,danai dengan hutang. Dan selama lebih dari tujuh tahun berjalan, Amerika terus menggunakan hutang untuk membiayai gaya hidup mereka. Pada tahun 1927, sebagian besar rakyat Amerika mulai merasakan tamparan dan mulai menggunakan disposible income mereka untuk membayar hutang yang terlanjur menumpuk. Pada akhirnya barang-barang konsumsi dalam jumlah yang setera dengan populasi di negara itu mulai teronggok di rak-rak toko (tak terbeli), kerena pendapatan masyarakat telah habis digunakan untuk membayar hutang yang terakumulasi. Dampaknya juga memukul sektor ekonomi yang lain, para supplier tidak menerima pesanan dari department store, pabrik-pabrik juga tidak lagi menerima pesanan dari para supplier, dan akhirnya pabrik-pabrik terpaksa memberhentikan para karyawannya. Manifestasi pertama dari ketidak-berlanjutan gelembung kapitalisme terjadi pada tanggal 27 Oktober 1929, pasar saham jatuh hanya dalam sehari, 87% dari market value tersapu habis, saat itulah gelembung kapitalisme, yang tidak sustainable, meletus.
Setiap bagian dari kapitalisme bergantung pada cara kerjanya, sistem tersebut tegak di atas usaha untuk merekayasa kebutuhan agar para konsumen terus membeli dan membeli dalam rangka memelihara segmen utamanya (katalisatornya) tetap bisa bekerja. Itulah mengapa negara-negara berkembang terus mengalami resesi secara reguler ketika orang banyak telah membelanjakan uang melebihi kemampuan yang dimilikinya. Ketika hal itu terjadi maka terjadi pula penurunan tingkat belanja masyarakat sebesar jumlah pendapatan yang mereka gunakan untuk membayar hutang. Siklus pembelanjaan ini -peningkatan produksi, peningkatan lapangan kerja, konsumsi yang berlebih- tidak akan pernah bisa bisa terus dipertahankan, dan pasti akan berakhir pada satu titik.
Pasar finansial akan sepenuhnya terpisah dari ekonomi riil ketika orang tidak lagi membeli saham perusahaan untuk mendapatkan deviden, melainkan sekedar mengambil keuntungan dari kenaikan harga (apa yang disebut capital gain -pent.). Kondisi ini membuat spekulasi justru memegang kendali dalam porsi yang sangat besar, termasuk mempertaruhkan keambrukkan ekonomi.Spekulan mata uang memegang peran penting terhadap kejatuhan nilai mata uang ‘macan-macan ekonomi’ (negara asia yang perekonomiannya meroket -pent) pada tahun 1997. Berkolaborasi bersama para investor lain, mereka sengaja mempertaruhkan keambrukan ekonomi wilayah ini dengan menarik uang dari aset, saham, dan real estate Asia Tenggara, sehingga mata uang regeonal mengalami collapse. Banyak hedge fund bisa meraup milyaran dolar dengan modal jutaan saja. Krisis ini kemudian dikenal dengan krisis finansial Asia.
Islandia pada April 2008 menerima speculative attacks yang dilancarkan oleh para spekulan mata uang yang ingin meraup untung dari kebangkrutan Icelandic Krona. Meskipun perbankan Islandia memiliki simpanan yang cukup dan sebelumnya telah nobatkan sebagai lahan subur untuk berinvestasi, namun para spekulan menebar berita tentang kemungkinan terjadinya krisis perbankan di negeri ini demi mendapatkan keuntungan (pertaruhan) dari short position Icelandic Krona. Kejadian ini sama seperti rumor yang disebarkan oleh sebagian spekulan di Inggris bahwa HBOS sebagai mortgage lender terbesar di Inggris akan segera mengalami keruntuhan pada Maret 2008. Proses ini sama saja dengan arena perjudian di seluruh dunia dimana orang-orang bertaruh mengenai hasil pertandingan sepak bola atau siapa yang akan lebih dulu mencetak gol. Bedanya, dalam pasar finansial, anda bertaruh mengenai hasil-hasil keputusan ekonomi.
Bear sterns juga mendapati dirinya menerima dampak dari ulah para spekulan yang akhirnya membawanya pada situasi collepse. Hedge fund menebar rumor bahwa Bear Sterns telah mengalami krisis likuiditas, sehingga mereka bisa menjadikan akhir hayatnya sebagai objek pertaruhan. Sebaliknya, isu tersebut akan menggerus kepercayaan para investor terhadap perusahaan. Pimpinan komisi securities and exchange, Ghristopher Cox, menandaskan hal tersebut dalam sebuah surat yang ia tujukan kepada perusahaan tersebut pada Maret 2008, “the collapse of Bear Stearns was doe to a lack of confidence, not a lack of capital. Notwithstanding that Bear Stearns continued to have high quality collateral to provide as security for borrowings, market counterpasties became less willing to enter into collateralized funding arrangements with Bear Stearns’. Dia menandaskan bahwa, “Bear Stearns’ liquidity pool started at $18,1 billions on March 10th 2008 and then plummeted to $2 billion on March 13th 2008. Ultimately markets rumore about Bear Stearns’ difficukties became self-fulfilling”.
contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa spekulasi mamainkan peran utama dalam pertumbuhan ekonomi, dia lah yang akan membuat gelembung perekonomian menemui peluruhannya secara pasti. Spekulasi merupakan suatu hal yang abadi dalam diri kapitalisme, bahkan di dalam masyarakat yang konsumtif dan makmur sekali pun. [ ADNAN KHAN ]


Juli 7, 2008 pukul 9:45 am
Tok, terjemaahannya kurang ape, kayanya ga pake hati, maksud ku konteknya ada yang kurang . terlalu inggris je, tapi apik, siip lah
Juli 7, 2008 pukul 11:12 pm
Oke, jangan khawatir, buku ini dah naik cetak di PTI, diterjemahkan oleh orang yang jauh lebih fasih berbahasa inggris. Jadi tunggu aja!