Pelajaran Fiqh
Asy Syaikh Muhammad Taqiyyuddiin bin Ibraahiim bin Musthofa bin Ismail bin Yusuf An Nabhaaniy rahimahullaah di dalam Asy Syakhshiyyah Al Islaamiyyah Juz II berkata:
Mengenal hukum-hukum syara’ yang diperlukan oleh setiap muslim dalam kehidupannya sehari-hari merupakan kewajiban yang bersifat individual (fardhu ‘ain), sebab mereka diperintahkan untuk selalu melaksanakan aktivitasnya berdasarkan hukum-hukum syara’. Hal itu dikarenakan seruan pembebanan (khithob taklif) yang diserukan Asy Syari’ (Allah) kepada manusia dan kepada orang-orang yang beriman (untuk tunduk kepada Asy Syari’/Allah) bersifat memaksa, di dalamnya tidak ada pilihan sama sekali, baik dalam masalah keimanan atau pun dalam masalah amal perbuatan manusia. Maka dari itu, Firman Allah, yang artinya (berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya) [TQS An Nisaa’ 136] sama sebagaimana FirmanNya, yang artinya: (Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba) [TQS Al Baqoroh 275], keduanya itu sama-sama termasuk seruan pembebanan (khothob taklif). Dan dia merupakan seruan yang berbentuk memaksa (untuk ditaati -pent), dilihat dari aspek keberadaannya sebagai suatu seruan (khitob) bukan dilihat dari jenis tuntutan yang diserukan kepada kita (apa wajib, sunah, atau yang lain -pent). Hal tersebut berdasarkan Firman Allah Ta’aalaa, yang artinya: (tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula bagi wanita yang beriman apabila Allah dan rasulNya telah memutuskan suatu perkara akan ada pilihan lain bagi mereka) [TQS Al Ahzab ayat 36], dan juga berdasarkan dalil adanya perhitungan amal (di hari akhir), Allah Ta’aalaa berfirman, yang artinya: (barang siapa yang mengamalkan suatu kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihatnya, dan barang siapa yang melakukan suatu keburukan seberat dzarrah, dia akan melihatnya) [TQS. Az Zalzalah], Allah berfirman, yang artinya: (hari dimana setiap jiwa menjumpai segala macam perbuatan baiknya, demikian juga dengan segala perbuatan buruknya, dia berharap agar antara dia dan hari itu terbentang jarak yang amat jauh, dan Allah memperingatkanmu terhadap diriNya) [TQS Ali ‘Imran ayat 29], dan Firman Allah, yang artinya: (dan setiap jiwa dicukupkan atas apa yang dia kerjakan) [TQS Al Mudatstsir ayat 38]. Maka dari itu, pembebanan itu datang dengan bentuk yang memaksa, sehingga seorang muslim itu dibebani dengan pembebanan yang bersifat memaksa untuk terikat dengan hukum-hukum syara’ ketika melaksanakan setiap amalnya. Adapun jenis pembebanan, atau sesuatu yang dibebankan oleh Allah yang bisa berupa tuntutan pengerjaan, tuntutan untuk meninggalkan atau pun pilihan itu kadang bersifat: wajib, sunnah, mubah, haram atau pun makruh. Adapun dari aspek pembebanannya sendiri maka ia bersifat memaksa, tidak ada pilihan, yang ada hanyalah kewajiban untuk terikat dengannya.
Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui hukum-hukum syara’ yang dibutuhkan dalam kehidupan (secara pribadi -pent). Adapun yang selebihnya (tidak diperlukan secara pribadi -pent), maka mengetahuinya merupakan fardhu kifayah, sehingga apabila sebagian telah melaksanakannya maka kewajiban itu gugur bagi yang lain. Hal demikian itu dikuatkan oleh apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “menuntut ilmu itu wajib bagi setipa muslim“, meskipun kata ilmu yang dimaksud di sini adalah segala macam ilmu yang dubutuhkan oleh muslim di dalam kehidupannya, namun fiqh termasuk di dalamnya, pasalnya ia adalah ilmu mengenai hukum-hukum yang dibutuhkan oleh setiap muslim dalam menjalankan hidup, berupa hukum-hukum ibadah, mu’amalah, dan lain sebagainya. Atas dasar itu, pendidikan fiqh merupakan salah satu perkara yang penting bagi kaum muslimin, bahkan ia merupakan hukum-hukum yang diwajibkan oleh Allah atas mereka (untuk dipelajari -pent), baik yang bersifat fardhu ‘ain mau pun yang fardhu kifayah. Terdapat hadits-hadits mulia yang memberi dorongan kuat untuk mempelajari fiqh, yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Rasulullaah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberi dorongan untuk mendalami fiqh. Al Bukhori telah meriwayatkan dari jalan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, berkata: Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “barang siapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan, maka dia akan difaqihkan di dalam agama”, dan dari Said bin Musayab dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, “barang siapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan, maka dia akan difaqihkan di dalam agama“, diriwayatkan oleh Ibnu Maajjah. Hadits-hadits tersebut secara jelas menunjukkan tentang keutamaan fiqh dan dorongan untuk mempelajarinya. Dan diriwayatkan dari Umar bin Khothob rodhiyallaahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “sungguh, wafatnya seribu hamba yang rajin sholat di malam hari dan puasa di siang hari lebih ringan dari wafatnya seseorang berakal yang mengetahui apa yang dihalalkan oleh Allah dan yang diharamnyaNya“, diriwayatkan oleh Ibnu Hanbal.


Juli 29, 2009 pukul 12:24 pm
???
so, mengapa HT ga ada mempelajari masalah fiqih di buku2ny?? katanya penting???
September 17, 2009 pukul 5:34 am
Dari seluruh kitab HT, lebih dari separuhnya berupa kitab fiqh. Lantas Bagaimana anda bisa berkata seperti itu??? Bangun!! Bangun!!!
September 25, 2009 pukul 1:30 am
:/ sepertinya belum baca kitab2 HT.
September 27, 2009 pukul 4:40 pm
@:/ : ngaji dulu baru comment….
Oktober 2, 2009 pukul 1:27 pm
weit, tenang dulu sodara-sodara. Saia cuman pengen confirm aja nih sama semuanya, ngerasa ga sih kalo yg banyak di kitabnya HT tu lebih banyak kaidah-kaidah syara’ ketimbang masalah fiqh? Okeh itu juga bagian hukum syara’, but kalo Anda paham maksud saia, fiqh praktis macam yg ada di dalemnya fiqh sunnah or bidayatul mujtahid, ga ada tu di kitabnya HT. Jujur, kalo saia liat temen2 HT, lebih pinter ketika ngomongin masalah kaidah2 ini, sementara pengaplikasian kaidah ini sedikit bangeet. Ngerti gag seh maksud saia? Misalnya nih artikelny si titok ini, ngomongin pelajaran fiqh, tapi di dalemny isinya teori2, tanpa ada pelajaran fiqh praktisnya. Pelajaran fiqh itu penting bla, bla, bla. Di buku2nya HT banyaknya isiny begini ini. Tapi kagak ada yg ngebahas masalah sholat, puasa. gitu deh maksud saia.
Kalow saia, kebetulan saia juga ngaji. Makanya mbak tania dan ki demang, jangan sembarangan nuduh dong.. tapi saia juga pengen kalow anak-anak HT tu dalam diskusinya juga mbahas duduk di masjid bagi yang haid (buat yg putri) or masalah wajibnya sholat jama’ah (buat yg putra), karna kalow ngumpul ama anak-anak HT bawaannya males ngomongin isi fiqhnya. Liat aja di JM, topik apa yg dihindari ama pengisinya? Jawabannya seingetnya aja, dalil-dalilnya pake kata “kalo enggak salah, seinget saia” gitchu deh.. mungkin baca fiqh sunnah aja kaga pernah. mungkin malah kaga tau fiqh sunnah tu apaan. persis kayak saia dulu, untungnya saia insyaf, HT is only a part of my life, a part of tsaqofah Islam. Masi banyak banget tsaqofah Islam yg kudu kita cari. Jangan cuma puas karna uda halaqoh, apalin tu Qur’an, baca tu buku fiqh. setau saia, taqiyuddin an nabhani naroh perhatian yg sangat besar ttg fiqh, bukan cuman ttg kaidah2nya aja. makanya ada distorsi antara harapan mbah taqi ketika nulis itu yaitu supaya anak-anak HT pada belajar fiqh di luar sono, dan kemalesan mereka karna fiqh ituw gag dibahas di kitab-kitabnya HT.
Mungkin ada yg berpendapat, mikirin materi hlq aja uda pusing, apalagi mikirin fiqh praktis? Liat tu cowok HT, celana keinjek-injek sepatu, mana sempet ngebahas masalah isbal, palingan yang dibahas sumbernya dari ulama HT juga.
Ah, jadi panjang. to titok, tolong komen saia dipotong, tolong bgt, terserah dibagian mananya, saia juga bingung, tapi takut ada yg salah paham. ato komen saia diapus aja, tapi tolong anda buat artikel ttg hal ini. anda nyadar ga sih fenomena kayak gini di kalangan syabab? okelah saia tau anda mungkin punya buku fiqh banyak, tapi coba liat tu temen2 anda, yg ga punya buku fiqh sama sekali juga ada loh, dan emang ga berminat untuk punya!
Komen Titok: Bagus,saya suka sekali dengan syabab yang model kayak gini.
Benar, HT banyak bicara soal penanaman pemahaman dan kaidah,sebab HT bukan madzhab atau madrosah.
Tapi, bener kata antum, semua syab harus insyaf, bahwa HT is only a part of their life. Banyak hal yg dibutuhkan untuk mjd seorang muslim yg bersyakhshhiyyah dan senantiasa terikat kepada hukum syara’. Sebab, disamping sbg syabab, mereka juga berperan sbg muslim pd umumnya. Makanya, artikel ini saya tulis dalam rangka itu.
Saran saya untuk kita semua, jangan hanya meratapi kondisi orang lain, mulailah sekarang juga untuk menjadi yg seharusnya, mulai dari kita sendiri.
Tapi, kalo anda generalisasi seperti itu, saya tidak sepakat. Saya kenal banyak syabab yang begitu faqih, begitu wara’, begitu ‘aalim,jauh dari kondisi saya, dan mereka begitu menginspirasi diri saya. Semoga Allah selalu menjaga mereka dan memperbaiki keadaan mereka!